Jumat, 21 Mei 2021

 

Aku terbiasa bangun sekitar pukul 03.30. Dengan mata yang sedikit masih terkantuk-kantuk, kusisihkan sarung. Kuinjakkan kakiku di lantai yang dingin. Kuhidupkan lampu penerang dari teplok dengan bahan bakar minyak tanah. Waktu itu belum ada jaringan listrik. Kuraih air wudhu. Kubaca niat dalam hati.Kubasuh kedua mukaku. Kuratakan air wudhu di kedua tangan sampai atas siku. Kubasuh sebagian kepala dan kedua telingaku. Yang tearakhir kubasuh kedua kakiku sampai mata kaki.

Setelah hilang hadas kecil, kuraih sajadah dan menghadap kiblat. Kujalankan sholat tahajut. Setelah dua rekaat kutunaikan , kemudian aku berdoa padaTuhanku, “Ya Allah, ampunilah semua dosa dosaku. Ya Rob, ampunilah dosa kedua orang tuaku. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa orang-orang yang pernah menolongku. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa semua guruku. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa  Pak Roeka sekeluarga yang telah menerimaku disini sebagai anggota keluarga yang baru. Lapangkanlah rejeki keluarga Pak Roeka, sehingga mereka dapat membayar uang BP3, uang SPP, dan biaya sekolah lain dan  biaya keperluan hidupku. Aku menghadap ke hadirat-Mu pada fajar ini,Ya Allah .Tolonglah aku, ya Allah. Mudahkanlah aku dalam menuntut ilmu.  Untuk bekal kehidupan di dunia dan di akherat kelak.” Tak  terasa air mataku keluar dari kelopak mata dan membanjiri kedua pipiku.

Setelah selesai berdoa, kuraih buku-buku pelajaran. Kubaca dan kumakan habis semua isinya. Bahasa Inggris,Matematika,Bahasa Indonesia, IPS, IPA, PMP dan pelajaran lain yang aku  sesuaikan dengan jadwal pada hari tersebut. 

Adzhan sholat  subuh sudah terdengar berkumandang dari kejauhan. Kuhentikan belajarku. Kutunaikan sholat subuh dua rekaat. Usai sholat subuh dan berdoa seperlunya, aku segera meninggalkan tempat sujudku untuk  membantu pekerjaan keluarga pak Roeka. Aku menyadari bahwa di rumah inilah aku menyandarkan hidup, dirumah inilah aku mulai berpijak untuk menuntut ilmu lebih lanjut. Oleh karena itu, sudah selayaknya aku ikut memperingan beban  pekerjaan yang ditanggung oleh keluarga ini. Aku harus menukar makanan,minuman,tempat tinggal,biaya sekolah,kasih sayang dengan sebagian kecil keringatku. Kalau dihitung dengan uang, tidaklah sebanding  dengan apa yang telah  diberikan kepadaku. Tetapi paling  tidak dengan bantuan tenaga yang kuberikan dapat sedikit memperingan beban yang ditanggung keluarga pak Roeka.

Kuisi kolah dengan air yang kutimba dari sumur. Kedua tanganku secara bergantian mengerek tali untuk menurunkan dan menaikkan timba yang berisi penuh air. Waktu itu pompa air sanyo atau panasonic belum tepasang.  Instalasi listrik belum terpasang. Usai mengerejakan pekerjaan itu, kusapu lantai traso putih dan kupel hingga bersih. Setelah itu, kucuci bajuku sendiri yang kotor, dan kurapikan tempat tidur. Aku tidur di kamar depan. Aku tidur dengan anak terakhir Keuarga Roeka seusia sebayaku yang bernama Tri Handoko alias Kokok. Ia bersekolah di SMPN 1 Pati dan kost.  Bila hari Sabtu, Minggu atau hari libur, aku tidur dengannya.

Pak Roeka mempunyai 3 putra. Sewaktu aku berdiam di rumah tersebut, putra pertamanya bernama Bambang Widiyanto alias Mas Wit diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada, sedangkan putrinya yang kedua Mbak Ida diterima di SMAN 1 Pati yang terkenal dengan Castra Jayecswara.

Ikut atau ngenger di sebuah keluarga, harus tahu diri dan selalu main  perasaan. Ada makanan nomor sepuluh, kalau ada pekerjaan harus nomor satu. Walau keluarga pak Roeka tidak pernah menyuruhku untuk bekerja, aku harus tahu diri. Aku makan 3 kali sehari. Aku minum air teh atau kopi tak terhitung berapa gelas sehari semalam. Aku tidur di kasur yang empuk. Aku mandi dua atau tiga kali sehari dengan sabun dan sampo yang sudah tersedia di kamar mandi. Demikian semua kegiatan itu, hampir kulakukan setiap hari, aku tak kenal lelah dan kenal menyerah.

0 komentar:

Posting Komentar