Jumat, 21 Mei 2021

 

Mataku menatap ke langit biru. Kupandang mendung putih tipis bekejar-kejaran.  Mereka berlarian ditiup angin. Kemudian kualihkan pandangan mataku ke sawah dan kebun. Kulihat rerumputan hijau dan tanaman padi yang mulai menguning  di hamparan sawah yang begitu luas.  Setelah beberapa saat  berhenti untuk  melepas lelah dan dahaga, kulanjutkan tugas untuk membabat rerumputan hijau di galeng persawahan  dan kutaruh di dalam keranjang. Setelah keranjang penuh dengan rumput, aku pulang.

Aku dan adikku dibelikan ibu seekor kambing jantan. Kambing itu harus kucarikan rumput yang bagus dan hijau.  Kambing itu nggak mau makan sembarang rumput. Ia hanya mau makan daun-daun dari pohon tertentu dan rumput  yang segar dan hijau. Kalau tak ada rotan akarpun jadi. Kalau tak ada rumput yang  hijau, aku carikan dedaunan dengan cara memanjat  pohon. Kambing kukasih makan rumput hijau dan daun supaya kenyang.

Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas  5 Sekolah Dasar. Sedangkan adikku duduk di bangku kelas dua.Terlahir di kawasan pedesaan, aku harus pandai membagi waktu antara belajar, mengasuh adik , memberi  makan  ayam, menyapu halaman dan rumah dan mencarikan makan kambing. Ibu  adalah seorang pedagang kecil di Pasar Puri dengan menjual anyam-anyaman dari bambu seperti  tampah, dunak,tebok ,kalo,ilir,tambir dan lain-lainnya.  Ibu berangkat sekitar jam 3 fajar dengan berjalan kaki dari Desa Pulorejo,Winong dan menuju ke Pasar Puri di Kota Pati.  Jarak antara desaku dan Pasar Puri  sekitar 15 kilometer. Beliau pulang sampai ke rumah pada jam 5 sore. Sedangkan ayahku telah meninggalkan aku, adik dan ibu waktu aku masih kecil dikarenakan himpitan ekonomi yang begitu berat.

Karena  Ibu  yang  bekerja membanting tulang itulah, aku dan adikku harus berusaha mengurus diri sendiri. Pagi  harus bangun pagi, sholat subuh, memberi makan kambing kesayangan, membeli sarapan di warung, mandi, ganti pakaian seragam , memakai sepatu dan kaos kaki dan barangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Jarak antara sekolah dan Sekolah Dasar Puluhan Kebak sekitar 1 kilometer. Ya, cukup jauh.  Sepeda, pada waktu itu masih terlalu mahal dan tak terjangkau.  Aku tidak berjalan sendiri. Banyak teman berjalan secara bersama-sama . Jarak 1 km terasa dekat, karena  dilakukan secara bersama-sama dan dengan hati senang.

Walau harus berjalan dengan jarak kira-kira 1 km waktu berangkat dan pulang  sekolah , tetapi  pantang bagiku untuk datang terlambat. Saya harus datang lebih awal dari teman-temanku.  Sesampai di sekolah aku bertemu dengan bapak/ibu guru: Bu Ratni, Bu Harni, Bu Nyami,  Pak Setyo, Pak Turi, Pak Lajimin, Pak Sidik, Pak Kuyanto  dan Pak Sugiharto.  Begitu sampai di sekolah, aku dan teman-teman menghormat sambil memberi salam. Aku masih teringat pada teman teman SD-ku; Sukarno, Sardi, Saripin, Kasnawi, Harbono, Nawangsih, Srinah dan masih banyak yang lain.

Pada suatu hari, ibu  guru Kelas V memangil salah satu temanku. Beliau berkata, ” Kamu yang akan mewakili SDN Puluhan Kebak untuk maju  mengikuti perlombaan pelajar teladan di tingkat kecamatan. Dan ini sebuah buku tambahan yang harus kamu hafalkan dan pelajari di rumah.” “Apa..?” kataku. Tersambar petir rasanya.  Hatiku mendidih... mau usul, mau memprotes, mau  berontak tetapi aku tak berani. “Tidaklah adil,” kataku dalam hati.  Mengapa tidak diadakan seleksi dahulu di tingkat kelas?  Tes tertulis atau wawancara? Bukankah setiap siswa mempunyai hak yang sama? Bukankah aku juga mempunyai hak untuk mewakili sekolah ini?

Kupendam usulanku dalam-dalam di dada. Kusimpan air mataku di dalam kelopak mata. Kukubur dalam hati sanubari  semangat untuk menjadi yang terpilih. Setelah pulang dan sampai di rumah, akhirnya aku mengadu pada Tuhanku.“Ya Allah,  mengapa guruku tidak memilihku untuk mewakili lomba pelajar teladan di tingkat kecamatan Winong?” Aku mulai berkaca diri. “Kamu tidak pantas, kamu kan miskin, kamu kan tidak ditunggui ayahmu, kamu kan hanya seorang anak dari  seorang pedagang  anyaman bambu, kamu kan jelek, kamu kan  bodoh!”  Tidak terasa  air mata membasahi pipiku. Kalau alasan yang terakhir, pasti aku bisa menerimanya. Berarti aku harus belajar dan belajar.  Sejak saat itulah  aku berjanji pada diriku sendiri untuk rajin belajar dan bekerja membantu ibu dan  ingin menjadi siswa yang terbaik.

Setelah  sholat Dhuhur, ngliwet dan makan siang dengan lauk seadanya aku dan adikku  pergi mencarikan rumput untuk kambingku.  Sore hari, ibu datang dari berjualan anyaman dan membawa sedikit oleh-oleh.  Aku dan adik memakan oleh-oleh tersebut, kemudian aku  menjalankan sholat Ashar.

Waktu Maghrib mau tiba. Kutenteng sarung, kupakai kopiah dan melangkah dengan pasti menuju ke masjid desa. Antara masjid dan rumah tempat tinggalku tidaklah jauh, hanya berjarak kira-kira  100 meter. Kupegang mik dan kukumandangkan adzan sholat Magrib. Kemudian kulantunkan sholawat sambil menunggu kedatangan  jamaah lainnya. Setelah para jamaah berkumpul kulafatkan iqomah. Selesai sholat, aku mengaji  dengan Pak Rozaq untuk membaca Al Qur’an. Selesai mengaji, aku pulang.  Kemudian aku menyiapkan buku dan mengerjakan beberapa tugas sekolah yang diberikan kepadaku. Setelah selesai sholat, aku berkata pada ibu, “Ibu, besok Minggu saya mau ikut ke Pati untuk membeli buku.” “Iya Le, tapi kamu harus membantu ibu membawakan dagangan dan berjalan!”  “Iya ,Bu!” jawabku.  Aku gembira sekali mendengar jawaban dari ibu.

Hari itu hari Minggu. Sesuai janji  ibu, aku bangun pukul 3 malam. Aku ditalikan 20 buah tampah. Tampah itu dibagi dua.  Masing-masing katan tampah diikatkan   di pucuk mbatan.  Aku harus memikul  kedua renteng tampah tersebut. Di kegelapan fajar, dengan berobor oncor, aku berjalan mengikuti ibu.  Satu kilo meter, dua kilo meter, tiga kilometer belum terasa  berat. Tetapi setelah menginjak  kilometer keempat pundakku mulai terasa sakit. Kaki mulai terasa capai.  Kami tetap melangkah untuk menuju ke Pasar Puri di Kota Pati.  Berat dan capai terasa  hilang, sewaktu teringat buku yang mau aku beli. Usai membantu berjualan, aku dan ibu menuju ke toko buku Damai yang terletak di Jl. Pangliman Sudirman Kota Pati untuk membeli   sebuah buku impian yaitu buku Himpunan Pengetahuan Umum atau terkenal dengan singkatan HPU.

Setelah itu, saya dan ibu pulang. Sesampai di rumah, tanpa harus diminta oleh guru, kuhafal, kupelajari  dan kutelan seluruh isi buku tersebut. Aku tidak peduli, kekecewaanku yang tidak dipilih untuk mewakili pelajar teladan tidak membuatku surut  untuk tetap belajar. Siapa tahu ilmu tersebut bermanfaat. Aku masih teringat ketika Pak Rojaq guru ngajiku pernah memberikan ceramah bahwa barang siapa yang ingin meraih dunia maka dengan ilmu, barang siapa menginginkan akherat maka dengan ilmu dan barang siapa ingin kedua-duanya maka dengan ilmu. Oleh karena itu aku tetap rajin belajar. Disamping itu beliau juga pernah mengatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tak mau mengubahnya.

0 komentar:

Posting Komentar