Jumat, 21 Mei 2021

 

Sore itu pukul tiga tiga puluh. Seperti biasa,  di sore hari sehabis sholat ashar, aku mendapat tugas untuk menyapu halaman. Banyak sekali kotoran yang terdapat di halaman terutama dari daun-daun pohon jambu air yang rontok dari pohonnya.  Kusapu kotoran dengan sapu lidi, kukumpulkan dan kubuang di tempat pembuangan sampah. Pekerjaan ini kukerjakan dengan senang hati. Halaman yang begitu luas tampak bersih dan indah setelah kusapu.

            Jam menunjuk setengah lima. Usai melaksanakan kewajibanku, kuambil beberapa buku pelajaran yaitu Bahasa Inggris dan Ekonomi, kutaruh di dalam kresek hitam dan kubawa keluar kamar tidurku. Kubawa buku- buku tersebut ke kuburan yang letaknya kira-kira seratus meter dari rumah.

            Setelah sampai diatas kuburan, kucari tempat diantara batu nisan yang bersih dan  tenang. Kubaca berulang kali dan kuhafal materi materi yang telah diterangkan oleh bapak atau ibu guru. Aku sudah terbiasa, ada ulangan atau tidak ada ulangan, tetap belajar. Belajar tidak harus menunggu komando guru. Ingin menguasai materi pelajaran, semangat belajar harus tumbuh dari hati yang paling dalam. Ingin menguasai materi pelajaran, harus  mempunyai kedisiplinan diri. Oleh karena itu, maka aku selalu memanfaatkan  waktu luang dengan mencari tempat yang sunyi,sepi, bersih dan tenang. Aku dapat belajar dengan maksimal di tempat yang seperti itu.

            Pukul lima tiga puluh. Matahari akan tenggelam. Malam akan segera tiba. Kutengok kanan dan kiri. Di situ hanya ada batu nisan, beberapa rumah kecil pelindung batu nisan dan beberapa bunga kamboja. Menjelang maghrib, lama-lama bulu kuduku mulai berdiri. Mengetahui situasi yang demikian, akhirnya kuputuskan untuk berhenti membaca buku. Aku beranjak dari tempat dudukku. Setelah beberapa saat kuucapkan salam pada penghuni kubur dan pulang.

            Walau ada rasa sedikit takut, tetapi belajar diatas kubur itu beberapa kali kulakukan.

 

 


            Tidak puas dengan hasil ulangan Bahasa Inggris, terbentuk sebuah kelompok belajar. Kelompok itu terdiri dari aku sendiri, Kuswanto, Budi Kuncung dan Brimadianto. Kami bukan berasal dari kelas yang sama. Kami buat kesepakatan bersama bahwa kami bertemu pukul 08.00-09.30 malam, seminggu sekali di teras rumah Bu Muniroh. Kami membicarakan segala sesuatu dalam Bahasa Inggris. Dari percakapan Bahasa Inggris aku biasanya yang kurang paham. Aku sering sekali tanya pada Budi Kuncung yang sangat mahir dalam Bahasa Inggris.

            Suatu saat aku bertanya pada Budi Kuncung,”Bud, kamu kok dapat berbicara dalam Bahasa Inggris begitu lancar, bagaimana caranya? Ia menjawab,” Ini, buku ini!” Ia menunjuk pada sebuah buku. Buku itu milikku. Judul dari buku itu adalah Ringkasan Bahasa Inggris SMA terbitan Ganesa Exact Bandung. “If you want to understand English better, please study all of the materials in this book.” Pada waktu itu aku belum tahu betul maksud kalimat tersebut dalam versi Bahasa Indonesia. Kemudian ia menambahkan “Hafalkan semua!” Aku terkejut sambil berkata,” Apa, setebal ini?” Kalau kamu nggak bisa, tanya aku. “ Baiklah, makasih, ya,” aku menjawab.

            Mulai saat itu, aku rajin menghafal pelajaran Bahasa Inggris.

 

Ruang kelas I 8 ( satu delapan) berada pas diatas ruang kepala sekolah. Siswa  kelas satu delapan berjumlah 40 siswa. Kami istirahat dua kali dalam sehari. Hari itu hari Sabtu. Jam pertama dan kedua adalah melukis oleh Bapak Soeroto. Jam  ketiga  dan keempat adalah Bahasa Inggris oleh Bapak Hasbulah. Setelah itu istirahat, jam berikutnya adalah pelajaran sejarah oleh Bapak Soeparno Hadi. Jam terakhir tidak ada guru alias kosong. Yang bertugas piket pada hari itu sudah berusaha ke ruang guru untuk memastikan bapak guru yang mengajar. Tetapi setelah dari ruang guru, mereka mendapat jawaban bahwa bapak guru yang ada jam pelajaran dikelasku sedang sakit dan tidak ada tugas. Siswa disuruh belajar sendiri sambil menunggu jam pelajaran berakhir.

“Medeka...,” terlontar dari beberapa mulut  temanku. “Kita bebas....,” kata beberapa teman lain. Pesan untuk belajar sendiri yang dibawa oleh temanku tidak terlaksana. Para siswa sibuk dengan urusan mereka sendiri. Ada yang ngobrol keutara dan keselatan tanpa tujuan. Ada yang berjalan kesana kemari untuk ngerjain teman. Ada yang berkelompok kecil untuk mendiskusikan cara bapak/ibu guru mengajar. Ada yang sebagai profokator untuk mblurut alias pulang gasik sebelum bel pelajaran terakhir berbunyi.

Maklum masih kelas satu. Masih takut-takut. Menunggu adalah sesuatu yang paling membosankan. Dalam Bahasa Inggris, “ Waiting is boring.” Aku sendiri tak banyak bicara. “Bagus itu, kalau pulang....,” pikirku dalam hati.  Aku  kan dapat memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang lain di rumah. Pesan untuk belajar sendiri berubah menjadi situasi  kelas yang kacau balau, seperti kapal pecah, sangat ramai dan tidak menentu.

Separo dari teman kami termasuk aku terprofokasi oleh beberapa teman yang mengajak pulang. Separoh dari teman sekelasku terutama yang laki-laki  dengan menenteng tas keluar dari kelas. “Ayo kita pulang, ayo kita pulang, ayo kita pulang!” ajak beberapa teman. Seandainya saja waktu itu tidak ada rasa takut, seandainya saja di saat itu teman-teman tidak ramai, seandainya saja di waktu itu teman-teman mengambil sikap yang kompak, kita semua akan selamat.

Setelah separoh dari kami keluar kelas dan menuju anak tangga untuk turun, tiba-tiba muncul kepala sekolah, bapak Roeslani Narimo naik dari anak tangga menuju ke kelas kami.

Serentak anak-anak yang tadi sudah berada diluar kelas berlarian masuk menuju ke ruang kelas kembali. Mereka berusaha untuk duduk kembali ke kursinya masing-masing untuk mencari selamat. Demikian juga aku. Aku berlari sekuat tenaga untuk bisa mencapai tempat dudukku.

Dengan hitungan detik,  bapak kepala sekolah sudah berada di depan kelasku. Ia sangat marah sekali. Beliau berkata,”Siapa yang menyuruh kalian ramai seperti ini? Siapa yang menyuruh kalian pulang? Sekolah ini ada aturannya. Sebelum jam pelajaran berakhir semua siswa dilarang untuk pulang. Kamu kan dapat belajar!” Kami semua takut. Kami semua menundukkan kepala. Kami semua diam seribu bahasa. Kami semua membisu. Tak sepatah katapun keluar dari mulut kami. Kami semua memasukkan semua kata-kata marah yang mengandung nasehat kebaikan kedalam telinga kami dan hati kami.

Setelah sepuluh menit bapak kepala sekolah memberi wejangan, bel berakhirnya jam pelajaran terdengar. Kami semua lega. Setelah bapak kepala sekolah menyuruh ketua kelas untuk menyiapkan, ketua kelas melakukan perintah kepala sekolah.  Setelah semua siswa berdoa dan memberi salam,  kami semua pulang.

 

Pramuka, Praja Muda Karana, sebuah kegiatan Extra Kurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas satu SMA Negeri 1 Pati. Pada saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar, aku sering mengikuti perkemahan. Di waktu SMP aku hanya sekali mengikuti perkemahan. Aku sangat suka kegiatan ini. Aku sangat senang dengan kegiatan belajar sambil bergembira.  Belajar tali menali, belajar sandi-sandi, belajar cara bertahan hidup di alam bebas, belajar simaphore, belajar beribadah, belajar bersosialisasi , belajar untuk hidup bersama dengan teman baik dikala duka maupun suka, belajar untuk menerima hukuman dengan iklas. Aku sangat hafal betul lagu himne pramuka...dan mampu menyanyikannya.

HYMNE PRAMUKA

Kami Pramuka Indonesia.

Manusia Pancasila.Satyaku

Kudarmakan.Darmaku Kubaktikan.

Agar Jaya Indonesia.

Indonesia Tanah Airku.

Kami Jadi Pandumu.

Seorang pramuka sejati akan selalu mencintai Ibu Pertiwi. Seorang pramuka sejati akan selalu berpartisipasi membangun negeri ini. Sebagaimana ditulis pada syair Hymne Pramuka, mampu mencintai negeri dan membawa kejayaan bangsa ini.  Seorang anggota pramuka sudah sepantasnya mengamalkan TRI SATYA dan DASA DARMA.

Aku juga berusaha untuk menghafal, memahami, menghayati dan sekaligus berusaha untuk mengamalkan isi dari Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka. Aku masih hafal TRI SATYA dan DASA DARMA PRAMUKA.

TRI SATYA:

Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh sungguh:

1. Menjalankan kewajibanku terhadaop Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan  mengamalkan Pancasila.

2. Menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat.

3. Menepati Dasa Darma

Sedangkan DASA DARMA PRAMUKA adalah:

PRAMUKA ITU:

1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.

3. Patriot yang sopan dan ksatria

4. Patuh dan suka bermusyawarah

5. Rela menolong dan tabah

6. Rajin trampil dan gembira

7. Hemat cermat dan bersahaja

8. Disiplin berani dan setia

9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya

10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Ada pengumuman bahwa nanti malam ada penerimaan anggota Ambalan. Berpakaian seragam Pramuka lengkap. Jangan lupa memakai kacu leher dan atribut lainnya. Begitu diumumkan....bahwa pada malam nanti ada kegiatan pramuka semalam suntuk.

Setelah pulang aku mohon ijin pada Ibu Muniroh bahwa selama satu malam saya harus mengikuti kegiatan kepramukaan semalam suntuk. Beliu mengijinkan. Aku berangkat setelah maghrib dengan sepeda onthel. Setelah sampai di halaman sekolah, kami dibariskan.

Kakak pembina memberikan aturan-aturan secara lisan kepada calon anggota ambalan. Jumlah kami sekitar 400 siswa. Kami terdiri dari kelas I Satu sampai kelas Satu Sepuluh. Semua calon anggota harus berjalan kaki di  jalan setapak di persawahan  dan menyusuri jalan di desa-desa sekitar sekolah. Salah seorang pembina memberi arahan, “Mulai dari sekolah ini, kamu harus berjalan satu-satu menuju ke selatan. Untuk tanda kemana untuk arah kamu yang dituju selanjutnya, ikuti saja petunjuk dari kakak pembina yang ada di perjalanan.”

Hari mulai malam. Rembulan bersembunyi di balik awan yang tebal. Kulangkahkan kakiku berjalan menurut perintah dari kakak pembina. Hampir di setiap pertigaan atau perempatan jalan, ada kakak pembina yang berpakaian lengkap memberi petunjuk arah dan memberi beberapa pertanyaan yang wajib dijawab. Mulai dari hafalan Tri Satya, Dasa darma sampai pengetahuan umum. Kalau tidak dapat menjawab , sebagai hukumannya adalah push up 10 kali. Aku dan temanku, tak mengenali nama-nama dari kakak pembinaku karena berada di keremangan  malam.

Kalau ditanya dan aku bisa menjawab, maka aku dapat meneruskan perjalanan. Aku menyelinap di malam yang remang-remang. Dengan sedikit rasa takut, setelah 10 menit perjalanan, aku menunggu teman lain yang berada di belakang saya. “Ini kesempatan untuk ngerjain temanku,”pikirku dalam hati. Aku berdiri terdiam tanpa suara seperti patung. Beberapa nyamuk yang hinggap dan mau menyedot darahku kuhantam dengan tanganku. “Plak,” ia mati seketika.  Ada dua teman yang berjalan. “Berhenti! “kataku. “Siapkan  dan beri salam!” aku berpura-pura seolah-olah seperti kakak pembina. “Siap...Grak....Beri Salam...Salam Pramuka....” Tak tega juga aku melihat mereka menuruti saja perintahku. Aku harus mengatakan pada mereka apa yang sebenarnya terjadi. Setelah berhasil kukerjai, akhirnya aku berkata,”Maaf ya...aku ngerjain kamu. Aku agak takut berjalan di kegelapan malam. Aku cari teman untuk jalan bareng bersama.”  “Oh...kamu,”kata mereka. Walau mereka berhasil aku kerjain, mereka tidak marah karena mendengar kata maaf dariku. Akhirnya, kami bertiga secara bersama-sama menghadapi segala rintangan, mulai dari menyusuri sungai yang dangkal yang ada di persawahan desa Mblaru, melewati gerumbul sawah dan menjawab beberapa pertanyaan dari beberapa kakak pembina.

 Pukul tiga, kami semua sudah sampai di halaman sekolah. Semua disiapkan. Prosesi upacara penerimaan anggota ambalan Pramuka SMAN 1 Pati dilaksanakan. Setelah secara resmi kami diterima, dan upacara selesai, kami semua dibubarkan dan kami pulang menuju ke rumah masing-masing dengan mata yang terkantuk-kantuk.

 

 

“Never put off until tomorrow that we can do today.” Tak pernah menunda sampai besok apa yang dapat kita dilakukan hari ini. Menunda berarti meniadakan. Aku tak pernah menyia-nyiakan waktu. Kupakai waktuku seefektif mungkin. Informasi yang telah kuperoleh dari seorang teman lebih berharga ketimbang emas murni  100 gram.

Bunyi bell pulang telah terdengar. Jam pelajaran terakhir telah usai. Kukemasi semua buku dan alat tulis. Ketua kelas menyiapkan dan berdoa bersama. Setelah selesai berdoa kami semua menghormat kepada bapak guru, “Selamat siang, Pak. “Selamat, siang” pak guru menjawab.

Kukayuh sepedaku. Kuikuti temanku dari belakang. Setelah keluar dari jalan Gerbang SMAN 1 Pati , aku belok kanan menyusuri Jalan Sudirman. Setelah sampai di pertigaan aku belok kiri, sampai perempatan Pasar Puri , aku belok kanan ke arah timur menyusuri  Jalan Diponegoro. Setelah sampai di perempatan Jalan Penjawi, aku belok kiri dan aku ke utara aku susuri Jalan Penjawi. Kira-kira 300 meter temanku menunjuk sebuah rumah limasan tua dengan halaman yang sangat luas. Di sebelah rumah terdapat musholla tua tetapi terlihat masih kokoh.

Kuketuk pintu sampai tiga kali sambil mengucapkan salam. “Assalamualaikum,”kataku. “Walaikum salam,”terdengar suara dari dalam rumah. “Apa benar ini rumah Bu Muniroh?” tanyaku kepada seorang laki-laki setengah baya tadi.  “Iya,” jawabnya. “Boleh aku bertemu dengan Ibu Muniroh” tanyaku lagi pada orang tersebut. “Tunggu sebentar, biar kupanggilkan,” jawab orang itu. Setelah aku menunggu sebentar, perempuan tua dengan kulit putih muncul dari balik pintu. Kemudian aku utarakan maksud tujuanku bertamu ke  rumah itu. Rupanya Ibu Muniroh menerima proposalku. “Baiklah, mulai besok pagi kamu dapat tinggal disini tetapi dengan catatan kamu harus rajin,jujur, mau sholat, mau membantu kerja sehabis pulang sekolah dan tidak boleh sering pulang ke desamu. Sebagai imbalanya kamu dapat makan dan minum disini, setiap pagi kamu dapat uang saku, dan setiap bulan kamu kuberikan uang SPP untuk bayar sekolah. Kamarmu itu di bagian depan,” beliau menjelaskan persyaratan untuk tinggal di rumah itu. “Aku bersyukur kepada-Mu, Ya Allah atas jalan yang Engkau berikan kepada hamba-Mu ini,”hatiku berkata demikian. Secara spontan kuucapkan terima kasih kepada Ibu Hajah Muniroh. “Syarat-syarat yang  begitu mudah,” pikirku.

Esok harinya, aku mohon doa restu ibu dan saudara-saudaraku. Hari itu hari Minggu. Aku bawa beberapa potong pakaian sekolah, pakaian harian  dan buku-buku sekolahku. Aku berjalan kaki kira-kira setengah kilo untuk sampai ke jalan raya. Setelah menunggu sebentar ada mobil pick up  ke Winong. Dari Winong aku naik bis mini ke Pati. Setelah sampai di terminal aku naik bis mini lagi jurusan Tayu kemudian turun di Jl. Penjawi Gang V.

Setelah tiba dan masuk rumah Hajah Muniroh, kutata semua barang bawaanku di kamar yang telah diserahkan kepadaku untuk ditempati.  Di hari pertama di rumah itu, aku berkenalan dengan para pekerja yang ada di situ. Nama-nama pekerjanya  adalah Mas Muakad, Mas Sarusmanto, Mas Sunawi,Mas Pan,Mas Mat,Mas Jayen,Mas Tono. Karena aku adalah anak baru, aku harus pandai-pandai menyesuaikan diri.  Sopan santun dan andap ashor harus saya tunjukkan kepada mereka semua. Sebagai anak baru aku harus pandai – pandai mencuri hati mereka. Aku tak ingin ada konflik kecil kepada mereka sehingga aku harus mengalah dalam pekerjaan ataupun  dalam perkataan. Alhamduliillah, dalam waktu relatif singkat, aku dapat beradaptasi dengan mereka.

Siang telah berlalu. Malampun telah tiba. Setelah selesai menunaikan sholat magrib berjamaah dan makan malam , kucuci semua piring dan gelas yang telah dipakai oleh para  pekerja untuk makan.  Kemudian kutaruh  piring dan gelas di rak yang terbuat dari kayu.

Dari para pekerja itu yang masih bersekolah adalah Mas Sarusmanto, Mas Kasnawi dan Mas Muakad. Mas Sarusmanto dan Mas Sunawi sekolah di SMA sedangkan Mas Muakad kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Islam di Pati.

Setelah sholat Isya, kutata dan kusiapkan buku-buku pelajaran yang besok pagi ada jadwal pelajaran. Aku  belajar sampai pukul 09.00 malam. Setelah merasa mengantuk, aku menuju ke tempat tidur.

 Ibu Muniroh adalah sangat baik hati. Sebelum tidur beliau menyulut obat nyamuk bakar dan dibagikan kepada semua pekerja dan termasuk aku. Waktu itu usia  beliau sekitar 60 tahun. Sebelum tidur beliau sering sholat beberapa rekaat setelah sholat Isya dan memutar-mutar tasbih untuk berdzikir.

Pertama kali di rumah tersebut,  terkejut ketika jam dua tiga puluh fajar,semua pekerja harus dibangunkan. “Ayo bangun, ayo bangun, ayo bangun, sudah jam setengah tiga!” suara terdengar agak keras dari seorang seniorku.  Dengan mata masih terkantuk-kantuk, aku ikuti instruksi seniorku. Aku menuju ke tempat pemotongan sapi yang berada di sebelah rumah utama. Rumah ada dua. Rumah bagian depan dan rumah bagian belakang. Rumah yang ada di bagian belakang  dipakai untuk tidur para pekerja dan rumah utama dipakai oleh ibu Muniroh. Sedangkan dua kamar yang ada di bagian depan kupakai dan kamar satunya dipakai oleh Mas Mat.

Walau masih mengantuk, aku harus memaksa mataku terbuka.  Kuraih tali dari salah satu yang diikatkan di kaki sapi. “Ji...Ro....Lu.....regedeg...brug........,” aba-aba dari seorang komando. Aku ikut menarik tali dengan sekuat tenaga sesuai dengan perintah salah satu senior. Sapi besar jantan roboh seketika. Setelah sapi roboh,  dengan sigap lima pekerja cepat-cepat mengikatkan tali pada kaki-kaki pada sebuah bambu sedemikian rupa sehingga sapi tersebut tak mampu bergerak. Parang yang sangat tajam (sejenis pedang) ditaruh di leher sapi tersebut oleh Mas Muakad, dengan menyebut “Audzubillahimina syaetonnirojiin...,Bismillahirrohmannirrohim...,” Nges....suara parang yang sangat tajam memotong leher sapi, keluarlah darah segar dan matilah sapi tersebut. Kemudian sapi dikuliti dan dagingya yang bersih dibawa ke tempat pengolahan daging.

Setelah selesai menyembelih dan mengusung daging, tiba waktunya sholat shubuh. Mas Muakad mengumandangkan azhan sholat shubuh dengan suara yang merdu dan khas. “Allahuakbar Allahuakbar2x... Ashhaduallaillahaillalloh2x...Ashaduannamuhammadarrosullulloh2x....Khaialassholah2x...Khaialalfallah2x....Asholatukhoiruminannaun2x....Allahuakbarallluhuakbar. Laillahaillalloh....” Teman-teman secara bergantian menunaikan sholat shubuh termasuk aku. Usai sholat dan berdoa seperlunya, aku mulai memotong-motong daging untuk dipisah sesuai dengan jenisnya. Selain itu, para pekerja lain dan aku memisahkan daging dari tulang.

“Ini daging untuk buat glindingan baso,” kata salah seorang teman. Daging itu harus dihancurkan sampai lembut dengan dua besi yang agak berat oleh kedua tangan. Akupun tak tinggal diam. Dengan sekuat tenaga bersama dengan seorang pekerja senior, kuhancurkan dan kulembutkan  dua kilo daging . Keringatku banyak yang keluar. Setelah kira-kira jam lima tiga puluh, aku sarapan dengan membakar seiris daging segar yang kuolesi dengan kecap. Kulakukan ini, sebenarnya meniru dari teman seniorku.

Setelah sarapan dan bersih bersih, kubawa tas dan aku pamit untuk bersekolah. Aku diberi uang saku. Kemudian kukayuh sepedaku menuju  sekolah. Karena fajar, aku harus bangun dan kerja extra keras, sesampai di sekolah aku sering mengantuk. Apalagi kalau ada pelajaran oleh bapak atau ibu guru yang kurang menarik dalam mengajar. Pernah aku ditegur oleh beberapa bapak dan ibu guru karena mengantuk pada saat pelajaran berlangsung. Tetapi setelah kuceritakan apa yang saya alami, mereka pun memaklumi keadaanku.

Walaupun demikian kalau akan ulangan, aku harus belajar  semaksimal mungkin supaya dapat mengerjakan ulangan dengan baik. Aku menyadari bahwa di sekolah kurang berkonsentrasi menerima pelajaran dikarenakan lelah dan mengantuk, oleh karena itu buku-bukuku haruslah lengkap. Kalau bapak dan ibu guru sedang mengajar, biasanya ku perhatikan buku-buku yang dipakainya, kemudian saya mencari buku-buku tersebut di toko buku dan saya membelinya dengan menggunakan uang sakuku yang beberapa hari kukumpulkan. Kemudian buku tersebut kupelajari pada malam hari.

 

 

 

Keinginan yang begitu kuat untuk masuk ke SMA Negeri 1 Pati, membuat aku harus belajar extra keras dan berdoa extra khusuk. Waktu masih tersisa kira kira dua bulan lagi untuk ebtanas. Sepulang sekolah dan setelah makan siang dan sholat dhuhur,  kubawa buku catatan dan buku paket.  Aku mencari tempat yang enak untuk menghafal materi pelajaran tersebut. Sawah dan gubug sebagai tempat favoritku untuk belajar. Tempat kedua yang kusenangi adalah di belakang rumah di bawah pohon rindang.

Ujian Praktik dan ebtanas telah dilaksanakan. Hasil ebtanas telah diumumkan. Tahun 1995 adalah ebtanas pertama bagi satuan pendidikan SMP yang mana hasil dari ebtanas tersebut digunakan langsung untuk mendaftar SMA/SMEA/SPG/SGO/MAN. Hasil ebtanas ku adalah 45,00 dan berada di peringkat tiga sekolah. Rangking pertama diraih oleh Kaslan dengan jumlah nilai 48,00. Sedangkan peringkat kedua diambil oleh Patmolujeng. “Terima kasih, Ya Allah,” aku bersyukur kepada Allah.  Walau aku memperoleh nilai  yang lumayan tinggi, aku kurang yakin dengan nilaiku untuk masuk ke SMAN 1 Pati.

Pendaftaran sekolah telah dibuka. Aku foto copy nilai Ebtanas dan Ijazahku dan kulegalisir rangkap lima. Pada waktu itu, aku mendaftar tiga sekolah sekaligus. Target pertamaku adalah  masuk di SMA Negeri Pati . Target kedua adalah SMEA Pati. Sedangkan sekolah ketiga yang kutuju adalah SMAN 2 Rembang. Semua persyaratan pendaftaran kulengkapi. Salah satu syarat pendaftaran adalah foto copy hasil ebtanas yang sudah dilegalisir. Pada waktu itu nilai yang dipakai untuk mendaftar adalah foto copy nilai murni yang sudah dilegalisir, tidak menggunakan nilai Ebtanas asli. Oleh karena itu, setelah pengumuman  namaku tertulis di daftar pengumuman siswa baru yang diterima. Namaku ada di daftar pengumuman di SMA Negeri 1 Pati, di SMEA 1 Pati sekaligus di SMA Negeri 2 Rembang. Karena sejak awal aku ingin masuk ke SMAN 1 Pati, maka untuk sekolah secara otomatis kutinggalkan. Bukan aku tidak senang pada sekolah tersebut, tetapi tidak mungkin aku bersekolah di tiga tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.

Senang dan sedih bercampur dalam hatiku.  Senang karena aku dapat memasuki sekolah menengah yang tervaforit di Kabupaten Pati pada saat itu. Dengan bermodal  tekat dan kemauan yang keras tanpa tes dan tanpa membayar uang sepersenpun hanya dengan  bermodal nilai Ebtanas, aku dapat memasuki sekolah yang bergengsi. Gembira, karena Allah telah mengabulkan salah satu doaku untuk bersekolah di SMAN 1 Pati. Sedih, karena aku harus memikirkan seragam. Sedih, karena aku harus membayar uang BP 3. Susah, karena aku harus membeli buku buku catatan atau buku paket. Susah, karena aku harus berusaha sendiri bagaimana aku harus dapat makan minum dengan usaha sendiri . Sedih, karena aku harus menempuh perjalanan yang begitu  jauh setiap hari kira-kira 16 kilometer dari desaku ke SMAN 1 di kota Pati.

Tidak masalah. Aku menghibur diri. Insya Allah, Allah akan memberi  jalan keluar dari semua kesulitan ini. Dengan sepeda onthel RRT yang diberikan oleh keluarga bapak Roeka, kukayuh setiap jam 5 fajar sehabis sholat subuh. Jarak yang begitu jauh kutempuh kira-kira satu setengah jam. Sehingga pukul enam tiga puluh sudah sampai di halaman sekolah.

Hari-hari pertama masuk sekolah, aku masih bersemangat untuk bersepeda. Tetapi setelah dua bulan kujalani, aku mulai kelelahan. Aku mulai berfikir adalah tidak mungkin aku kost karena ibuku tak dapat dapat membayar biaya kost. Adalah tidak mungkin ibu mampu membayar SPP dan BP 3. Adalah tidak mungkin, ibu membelikan buku-buku secara terus menerus. Adalah tidak mungkin, ibuku membelikan pakaian seragam dan pakaian harian untukku. Adalah tak mungkin, ibuku membayar iuran sekolah yang mendadak. “Ya Allah, berikan jalan keluar dari semua masalah yang kuhadapi,” doaku kepada Yang Maha Kuasa.

Waktu terus bergulir. Tahun berlalu. Bulan berjalan. Hari berlari. Jam,menit dan detik berkejaran. Seiring waktu yang berganti, bertambah pula usiaku. Adalah tak baik, aku membebani ibu terus menerus. Aku harus mandiri. Aku harus mampu belajar sambil bekerja. Aku harus mampu membagi waktuku seperti aku duduk di bangku SMP ku dulu.

Waktu itu aku duduk di kelas I 8 (satu delapan).  Teman-temanku rata-rata dari golongan orang yang berada. Banyak dari mereka yang berkendara sepeda motor bila  bersekolah. Waktu beristirahat tiba, aku duduk ngobrol dengan temanku. Kuswanto namanya. Dalam pembicaraan tersebut kami ngobrol keutara keselatan tak tentu arah, mulai dari asal sekolah, asal desa, kerja orang tua, sampai permasalahan yang kami hadapi.

Kemudian aku bertanya pada temanku, “Kus, adakah di sekitar tempat tinggalmu  sebuah  keluarga yang mau menerimaku? Aku dapat bekerja di sana, aku dapat minum disana, aku dapat beristirahat disana, aku dapat sholat disana, aku dapat membaca Al Quran disana, aku dapat beribadah disana, aku dapat tidur disana, aku dapat belajar disana, aku dapat bersosialisasi disana, aku dapat menyandarkan seribu harapanku disana? Banyak pertanyaan yang kulontarkan kepadanya. Ia hanya terdiam.

Kuswanto, juga dari keluarga yang kurang berada. Ibunya berjualan bubur dan lonthong di pagi hari sebagai sandaran hidup. Sepulang sekolah, ia harus bekerja membanting tulang membungkus es cemut pada seorang pedagang keturunan. Sebagai imbalannya, ia diberi uang jajan setiap hari dan uang SPP setiap bulan.

Lama ia berfikir untuk menjawab pertanyaanku. Akhirnya ia angkat bicara, “Baiklah, ada tetangga saya  yang setiap fajar menyembelih sapi. Ia seorang janda, sudah haji. Namanya Hajah Muniroh. Anak-anak beliau sudah berhasil semua. Ia baik hati dan suka menolong. Ada sekitar 5 pekerja, 3 diantaranya masih sekolah. Alamatnya di Jalan Penjawi Gang V. Temuilah beliau. Siapa tahu beliau dapat membantumu.” “Terima kasih, Kus, nanti setelah pelajaran aku akan meluncur ke lokasi tersebut,” jawabku kepadanya.

 

 

 

 

 

EBTANAS kurang tiga bulan lagi. Aku harus mengambil sikap. Bagaimanapun juga aku harus mempersiapkan dengan lebih baik untuk penguasaan materi pelajaran. Tahun menunjuk 1995. Hasil nilai ebtanas murni digunakan sebagai acuan untuk mendaftarakan sekolah ke jenjang  yang lebih tinggi. Nilai ebtanas murni akan menentukan nasib untuk memilih sekolah yang akan dituju.

Pada waktu itu, ada 6 pelajaran yang diebtanas-kan yaitu Matematika,Bahasa Inggris,Bahasa Indonesia, IPA, IPS dan PMP. Persiapan yang baik untuk hasil yang baik. Persiapan yang lebih baik untuk hasil yang lebih baik. Persiapan yang paling baik untuk hasil yang terbaik. Aku ingin hasil ebtanas yang terbaik sehingga persiapan akupun harus yang paling baik.

Dengan berat hati, kutuliskan sepucuk surat perpisahan. Ini isi dari suratku “Bapak,Ibu Roeka, Mas Wit, Mbak Ida dan Kokok yang terhormat dan baik hati. Terima kasih kuucapkan. Bapak, Ibu dan keluarga telah memberi aku makan, telah memberi aku minum, telah memberi aku tumpangan, telah memberi aku uang untuk biaya sekolah, telah membelikan aku pakaian seragam sekolah, telah memberikan aku pakain harian, telah mengajari aku bagaimana untuk bertahan dalam badai, telah membimbing dan mengarahkan aku, telah memberikan aku kasih sayang. Kini, sudah saatnya aku harus meninggalkan rumah ini. Ku tak kuasa matur secara lesan. Oleh karena itu kugoreskan tinta di secarik kertas ini sebagai ucapan rasa terima kasihku. Semoga Allah Yang Maha Segala-galanya yang dapat membalas kebaikan bapak dan ibu sekeluarga. Amin”

Walaupun tak ada masalah yang berarti, aku harus tahu diri.  keluarga pak Roeka tidak pernah meminta aku untuk meninggalkan rumah itu. Aku berfikir berapa besar biaya yang akan dikeluarkan untuk kuliah Mas Wit di UGM, untuk biaya kuliah Mbak Ida di UNTAG untuk biaya Kokok di SMA, untuk biaya keponakan beliau di SMA PGRI Pati? Tidak,  aku tidak boleh egois. Aku tak boleh mementingkan diriku sendiri.

Setelah sepucuk surat perpisahan kutulis, kutinggalkan diatas meja rumah tengah. Kubawa pakaian dan bukuku. Aku pulang ke rumah asal di desaku. Meski agak jauh dari lokasi SMP, jarak tidak masalah bagiku. Tiga bulan aku nyepeda onthel dari desa ke SMP Winong yang berjarak kira-kira dua kilometer. Aku punya banyak waktu untuk belajar. Aku tak ingin hasil ebtanasku jatuh. Aku harus belajar keras. Dengan  pulang ke desaku aku mempunyai banyak waktu untuk berkonsentrasi untuk belajar.

Seberapa sulit situasi, seberapa menderita aku,  tetapi   tetap kutunaikan sholat lima waktu sehari semalam  . Shubuh, Dhuhur, Ashar, Magrib dan Isya’. Jariku lima. Sebagai misal jariku  tidak berfungsi satu saja, maka akan merasa kurang untuk melakukan kegiatan. Demikian kalau aku ketinggalan satu kali waktu saja karena suatu hal maka seakan ada yang kurang di hatiku.

“There is a will...there is a way...” Ada kemauan... ada jalan. Ada dua tujuan, aku pulang ke desaku. Pertama aku mempunyai tambahan waktu untuk belajar, sehingga aku dapat mengerjakan ebtanas dengan baik dan dapat mencapai nilai yang setinggi tingginya sesuai dengan kemampuanku.  Yang kedua dengan capaian nilai yang tinggi aku dapat masuk ke SMAN 1 Pati.

 

 

Pagi itu pukul 6.20. Usai ganti pakaian, mengecek ulang buku pelajaran dan buku catatan, aku pamit sama Bu Roeka untuk berangkat ke sekolah. Karena jarak rumah dengan sekolah dekat, aku berjalan kaki. Waktu itu aku masih teringat, jam pertama adalah jam Biologi dan ada ulangan. Guru biologi begitu ketat kalau mengawasi pada saat ulangan harian. Terlepas ketat atau tidak, pantang bagiku untuk nyontek atau tanya pada teman waktu ada ulangan.

Sebenarnya materi ulangan sudah kuhafal dari rumah. Aku merasa bahwa materi ulangan Biologi belumlah cukup. Kukeluarkan buku catatan biologi dari tas hitamku. Sambil berjalan, kupelajari semua materi yang akan digunakan untuk ulangan harian jam pertama nanti. Tak kusadari, ada salah seorang guru SMP yang memperhatikanku. Saat itu, aku berjalan sambil membaca buku. Tetapi karena asyiknya belajar, aku tak mempedulikan beliau.

Sesampai di halaman sekolah kututup buku biologiku. Aku sudah merasa lebih siap untuk menerima ulangan dengan membaca materi selama kira-kira lima belas menit sewaktu perjalanan dari rumah ke sekolah.

Bel masuk berbunyi. Semua siswa masuk kelas termasuk juga aku. Kusiapkan selembar kertas untuk menerima ulangan. Bu Mardini guru Biologiku masuk. Setelah ketua kelas menyiapkan dan memberi hormat, kami semua duduk.  “Ayo anak-anak hari ini ulangan. Keluarkan selembar kertas! Tulis nama, nomer absen dan kelas!” guruku memberi perintah. Begitu Bu Guru selesai memberikan perintah, aku mengambil kertas kutulis nama, kelas dan nomor absenku. Semua soal yang diberikan kukerjakan dengan baik. Waktu yang diberikan Ibu Guru untuk mengerjakan soal telah selesai. Pekerjaan dikumpulkan.

Usai ulangan, jam pelajaran Biologi masih tersisa beberapa menit. Sambil menunggu jam berakhir, beliau menanyakan soal apa yang kira-kira sulit dikerjakan. Semua siswa diam. Selanjutnya Bu Guru menambahkan saran-saran,”Kalau ingin mendapatkan nilai baik, ya harus mau belajar sungguh-sungguh di rumah. Belajar itu jangan sambil jalan. Berjalan di jalan raya kok sambil belajar. Kalau dari depan ada sepeda motor atau mobil kalau ketabrak kan bisa meninggal dunia,” guruku memberi nasehat. Aku tahu bahwa secara tidak langsung ibu guru tadi menasehatiku, tetapi beliau tidak menyebut namaku secara langsung.

“Terima kasih sarannya Bu, “gumanku dalam hati. Kemudian aku memprotes beliau dalam hatiku,”Tidakkah bu guru tahu bahwa waktuku di rumah harus saya bagi empat, satu bagian untuk membantu pekerjaan dari keluarga yang telah menghidupi dan menyekolahkan aku, bagian kedua untuk mengaji dan beribadah, bagian  ketiga untuk istirahat, dan yang keempat untuk belajar materi pelajaran, dengan demikian waktu untuk belajar dapat dipastikan sangat tidak memadahi?”

Aku tak ingin nilai ulangan harian atau nilai tugas dibawah teman-teman sekelasku atau teman dari kelas lain. Teringat teman-teman seperjuangan sekaligus sainganku di SMP....Imam Suyuti, Listiyono,  Sugiyanto, Sholekhan, Sudarsono, Sri Budi Hartati, Suyono dan lain-lainnya. Sedangkan dari kelas lain adalah Kaslan dan Patmolujeng. Setelah hasil ulangan harian dibagikan kulihat hasil nilai ulanganku dan kubandingkan dengan hasil nilai ulangan teman-teman. Begitu ada nilai teman diatas saya,  aku sangat sedih. “Awas, kalau ada ulangan lagi, nilaiku harus lebih baik dari pada mereka,” kataku dalam hati.

Oleh karena itu dengan keterbatasan waktu, aku harus mampu membagi waktu dengan baik. Biasanya aku belajar dengan membaca buku pelajaran dengan tiduran, dengan duduk, dengan berdiri, bahkan pernah kulakukan dengan jongkok disaat membuang hajat besar.

 

Aku terbiasa bangun sekitar pukul 03.30. Dengan mata yang sedikit masih terkantuk-kantuk, kusisihkan sarung. Kuinjakkan kakiku di lantai yang dingin. Kuhidupkan lampu penerang dari teplok dengan bahan bakar minyak tanah. Waktu itu belum ada jaringan listrik. Kuraih air wudhu. Kubaca niat dalam hati.Kubasuh kedua mukaku. Kuratakan air wudhu di kedua tangan sampai atas siku. Kubasuh sebagian kepala dan kedua telingaku. Yang tearakhir kubasuh kedua kakiku sampai mata kaki.

Setelah hilang hadas kecil, kuraih sajadah dan menghadap kiblat. Kujalankan sholat tahajut. Setelah dua rekaat kutunaikan , kemudian aku berdoa padaTuhanku, “Ya Allah, ampunilah semua dosa dosaku. Ya Rob, ampunilah dosa kedua orang tuaku. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa orang-orang yang pernah menolongku. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa semua guruku. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa  Pak Roeka sekeluarga yang telah menerimaku disini sebagai anggota keluarga yang baru. Lapangkanlah rejeki keluarga Pak Roeka, sehingga mereka dapat membayar uang BP3, uang SPP, dan biaya sekolah lain dan  biaya keperluan hidupku. Aku menghadap ke hadirat-Mu pada fajar ini,Ya Allah .Tolonglah aku, ya Allah. Mudahkanlah aku dalam menuntut ilmu.  Untuk bekal kehidupan di dunia dan di akherat kelak.” Tak  terasa air mataku keluar dari kelopak mata dan membanjiri kedua pipiku.

Setelah selesai berdoa, kuraih buku-buku pelajaran. Kubaca dan kumakan habis semua isinya. Bahasa Inggris,Matematika,Bahasa Indonesia, IPS, IPA, PMP dan pelajaran lain yang aku  sesuaikan dengan jadwal pada hari tersebut. 

Adzhan sholat  subuh sudah terdengar berkumandang dari kejauhan. Kuhentikan belajarku. Kutunaikan sholat subuh dua rekaat. Usai sholat subuh dan berdoa seperlunya, aku segera meninggalkan tempat sujudku untuk  membantu pekerjaan keluarga pak Roeka. Aku menyadari bahwa di rumah inilah aku menyandarkan hidup, dirumah inilah aku mulai berpijak untuk menuntut ilmu lebih lanjut. Oleh karena itu, sudah selayaknya aku ikut memperingan beban  pekerjaan yang ditanggung oleh keluarga ini. Aku harus menukar makanan,minuman,tempat tinggal,biaya sekolah,kasih sayang dengan sebagian kecil keringatku. Kalau dihitung dengan uang, tidaklah sebanding  dengan apa yang telah  diberikan kepadaku. Tetapi paling  tidak dengan bantuan tenaga yang kuberikan dapat sedikit memperingan beban yang ditanggung keluarga pak Roeka.

Kuisi kolah dengan air yang kutimba dari sumur. Kedua tanganku secara bergantian mengerek tali untuk menurunkan dan menaikkan timba yang berisi penuh air. Waktu itu pompa air sanyo atau panasonic belum tepasang.  Instalasi listrik belum terpasang. Usai mengerejakan pekerjaan itu, kusapu lantai traso putih dan kupel hingga bersih. Setelah itu, kucuci bajuku sendiri yang kotor, dan kurapikan tempat tidur. Aku tidur di kamar depan. Aku tidur dengan anak terakhir Keuarga Roeka seusia sebayaku yang bernama Tri Handoko alias Kokok. Ia bersekolah di SMPN 1 Pati dan kost.  Bila hari Sabtu, Minggu atau hari libur, aku tidur dengannya.

Pak Roeka mempunyai 3 putra. Sewaktu aku berdiam di rumah tersebut, putra pertamanya bernama Bambang Widiyanto alias Mas Wit diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada, sedangkan putrinya yang kedua Mbak Ida diterima di SMAN 1 Pati yang terkenal dengan Castra Jayecswara.

Ikut atau ngenger di sebuah keluarga, harus tahu diri dan selalu main  perasaan. Ada makanan nomor sepuluh, kalau ada pekerjaan harus nomor satu. Walau keluarga pak Roeka tidak pernah menyuruhku untuk bekerja, aku harus tahu diri. Aku makan 3 kali sehari. Aku minum air teh atau kopi tak terhitung berapa gelas sehari semalam. Aku tidur di kasur yang empuk. Aku mandi dua atau tiga kali sehari dengan sabun dan sampo yang sudah tersedia di kamar mandi. Demikian semua kegiatan itu, hampir kulakukan setiap hari, aku tak kenal lelah dan kenal menyerah.


Wali kelas VI telah mengumumkan hasil ujian. Aku mendapat rangking 1 di Sekolah Dasarku. Aku bertekad bulat untuk meneruskan sekolah ke SMP.  Aku tahu bahwa si teman yang sudah mewakili pelajar teladan sudah terlebih dahulu mendapat tempat di salah satu guru SD ku dan sudah mendaftar di SMP.

Seorang teman lain dan masih saudara yang telah menamatkan  SD terlebih dahulu pernah mengungkapkan sebuah pepatah. Ia berkata, “Maksud hati memeluk gunung tetapi apa daya tangan tak sampai.” Kemauan  ingin melanjutkan sekolah di SMP, tetapi dikarenakan biaya tidak mencukupi karena orang tua kurang mampu, ia mengurungkan niatnya. Saudaraku tadi menyerah. Tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan  pada waktu itu, untuk masuk ke SMP. Pada awal masuk SMP, orang tua siswa harus menyediakan uang gedung atau uang bangku dan uang seragam.

Kalau pepatah tersebut dipegang  temanku, sehingga ia mudah menyerah untuk tidak meneruskan sekolah, tetapi pepatah itu  tidak berlaku bagiku. Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Kalau gunung itu jauh, bila harus ditempuh dengan berlari, ya, aku harus berlari.  Apabila tidak mampu berlari untuk sampai ke gunung tersebut,  aku harus berjalan cepat. Jika tidak kuat berjalan cepat, aku harus berjalan  santai. Kalau tak kuasa berjalan, aku harus mbrangkang. Kalau tak sanggup mbrangkang, ya aku harus ngangsut. Memang letih, memang penat, memang capai, memang susah dan memang  menderita harus mendaki gunung dengan ngangsut.

Pada kenyataanya, secara ekonomi ibu tidak sanggup membiayaiku melanjutkan sekolah dengan membayar uang pangkal/uang gedung dan uang seragam. Namun niat dan semangatku tak akan pernah lekang oleh teriknya panas matahari dan tak pernah lapuk oleh derasnya air hujan, tak akan pernah tergerus oleh derasnya arus sungai, dan tak pernah sedikitpun goyah oleh besarnya badai yang menghantam. Aku harus tetap belajar. Aku harus tetap meneruskan sekolah ke SMP.  Oleh karena itu pada suatu sore hari, dengan sepeda ontelku, aku pergi ke salah seorang  guru SD ku  di desa Kebowan. Nama guruku tersebut adalah Pak Sugiharto. Desa tersebut terletak kira kira 2 km dari desaku.

“Kulonuwun...Assalammualaikum,” dengan mengetuk pintu kuucapkan salam. “Monggo, Waalaikumsalam,” terdengar  jawaban dari balik pintu. “Silakan masuk, Mas, “ guruku mempersilakan aku masuk.   Aku masuk dan duduk di kursi ruang tamu. “Maaf, Pak, kedatanganku kesini hanya merepotkan Bapak.” kataku untuk memberi rasa sopan. Kemudian aku berkata,  “Aku kesini mau minta tolong sama Bapak . “Minta tolong apa Mas?” beliau penasaran. “Tolong Pak, aku mohon carikan orang yang mau membiayaiku bersekolah ke SMP.  Saya siap untuk membantu kerja apa saja yang penting halal, “kataku. Guruku agak bingung mendengarkan pintaku. Setelah beberapa saat menundukkan kepala dan berfikir, akhirnya beliau menjawab. “Baik, Mas,tunggu satu atau dua hari lagi. Akan aku carikan orang yang mau menyekolahkan Mas,” kata beliau menyanggupinya. Mendengar kesanggupan beliau yang demikian, aku terdiam dan merasa senang sekali, aku mohon pamit dan pulang, tentu saja setelah mengucapkan terima kasih.

Sesampai di rumah aku berdoa , “Ya Allah, semoga aku mendapatkan tempat yang aku harapkan.” Dua hari berikutnya, seperti biasa aku dan beberapa teman berangkat menuju ke sekolah. Hari itu hari penerimaan nilai Ebtanas dan Ijasah dari SD-ku. Sesampai di sekolah sekitar jam 10 pagi, guru kelas 6 memanggil satu demi satu siswa. Sesampai giliranku, akupun maju beberapa langkah dan melihat hasil nilai ujian murniku.”Terima kasih ya Allah, aku memperoleh nilai tertinggi.” kataku dalam hati.

Dengan segudang harapan, kutemui Pak Sugiharto di ruang guru, “Oh ya, sini Mas, Silakan Mas mendaftar saja ke SMP Negeri Winong. Kalau pada pengumuman, Mas positip diterima, ada seseorang yang akan mencarimu.” “Ya Pak, terima kasih sekali,” aku menjawab.  Saya percaya dan yakin akan janji guruku itu, tanpa keraguan sedikitpun.

Hari itu juga, aku mendaftarkan diri ke SMPN 1 Winong. Dua hari berikutnya pengumuman. Nama-nama siswa baru yang diterima sudah ditempel di papan pengumuman. Setelah kucari namaku, ternyata namaku tertera disitu. Berarti aku diterima. Setelah beberapa saat, ada seseorang yang ingin menemuiku.  Sambil menyelidik  orang tersebut bertanya pada calon siswa yang ada di sekitar-ku. “Adakah siswa disini yang bernama Damin?”   “Ya, Pak itu aku,”jawabku sambil maju dua langkah. “Betul Pak, itu namaku,” aku meyakinkan beliau. “Perkenalkan, namaku Roeka. Kalau kamu berniat sungguh-sungguh untuk bersekolah, datanglah besok pagi di rumahku. Rumahku tidak jauh dari sini. Dari SMP ini ke timur kira-kira setengah kilometer, disitu ada Pasar Winong . Di sebelah Pasar Winong ada jalan ke selatan dan ikuti jalan itu. Di penghujung pasar itu rumahku,” beliau berkata demikian.  “Ya, Pak, terima kasih,” aku menjawab.  Setelah mengetahui jawabanku bapak itu pergi meninggalkanku.

Sejuta harapan terjawab sudah. Waktu itu,  hanya sedikit temanku yang dari golongan  mampu,  meneruskan anak mereka ke SMP. “Terima kasih, ya Allah,” aku bersyukur dalam hati. Kupandang langit biru. Kudengar kicauan burung kutilang di sekitar sekolah. Pada saat itu, masih terdengar nyanyian burung-burung yang berkeliaran di alam bebas; burung kutilang,jalak,cendet,pelatuk,drekuku, dan perkutut.

Tak ada orang lain di dunia ini segembira aku.  “Aku dapat bersekolah. Aku dapat meneruskan sekolah di SMP. Aku diijinkan sekolah oleh Yang Maha Kuasa. Allah telah mejawab salah satu doaku,” kataku dalam hati untuk mensyukuri nikmat  Allah yang telah diberikan kepadaku.

Segala sesuatu yang aku alami semua kuceritakan pada ibu. “Ibu, aku diterima di SMP Negeri Winong. Aku telah memperoleh tempat untuk berpijak, yaitu di rumah keluarga Bapak Roeka di dukuh Cangaan, Winong. Ijinkan aku Bu untuk menuntut ilmu untuk bekalku di dunia dan di akherat nanti,” aku berkata dan sekaligus memohon ijin pada beliau. “Ya..le,” jawab ibuku. Mulai besok aku harus keluar dan pergi dari rumah ini. Mulai besok, aku harus bertempat tinggal di rumah keluarga Pak Roeka.

Sore itu, matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Seperti biasa kulangkahkan kaki untuk mengaji. Mungkin malam ini aku harus berpamitan dengan masjid tercintaku.  Setelah kukumandangkan adzan Magrib, kulantunkan sholawat dan kutunaikan sholat Maghrib berjamaah, aku menengadahkan tangan seraya berdoa...”Ya, Allah, tolonglah hamba-Mu ini. Aku memohon kepada-Mu, selalu bimbinglah aku ke jalan-Mu yang lurus dan jalan yang Engkau ridhoi. Kami mulai besok pagi akan bertempat tinggal di rumah keluarga bapak Roeka. Selalu lindungilah  aku. Atas pertolongan-Mu, Ya Allah, jadikan kami kerasan di rumah tersebut. Mudahkanlah aku dalam menuntut ilmu di SMP Negeri 1 Winong,” demikian aku mendo’a.  Kemudian aku berkata di dalam hatiku,”Selamat tinggal masjidku. Mudah-mudahan saya dapat menemukan tempat ibadah dan guru ngaji di tempat baruku nanti.”

Setelah pulang dan menghabiskan sisa malamku, aku bangun di waktu adzan subuh. Setelah sholat subuh di kamar tidur, aku mengemasi beberapa potong kaos, celan pendek dan seragam SD. Aku tidak lupa membawa rapor, ijazah dan surat penting lainnya.  Karena aku tak punya tas berukuran besar, kucoba plastik kresek hitam untuk menaruh barang-barangku, ternyata plastik itu terlalu kecil sehingga tidak muat. Terpaksa aku pakai kain  kantong gandum putih sebagai pengganti tas.

“Audhubillahiminasyaetonirrojiim... Bismillahirrahmannirrahim. Ya Allah...lindungi aku..... kuatkanlah aku....,”sambil meneteskan air mata, kutinggalkan desa tercintaku. Kupanggul kantong putih yang berisi beberapa potong kain. Aku berjalan kira-kira setengah kilo dengan memanggul kantong terigu putih menuju ke jalan raya. Selanjutnya dengan naik kereta kuda, aku menuju kerumah keluaraga pak Roeka.

 

 

Mataku menatap ke langit biru. Kupandang mendung putih tipis bekejar-kejaran.  Mereka berlarian ditiup angin. Kemudian kualihkan pandangan mataku ke sawah dan kebun. Kulihat rerumputan hijau dan tanaman padi yang mulai menguning  di hamparan sawah yang begitu luas.  Setelah beberapa saat  berhenti untuk  melepas lelah dan dahaga, kulanjutkan tugas untuk membabat rerumputan hijau di galeng persawahan  dan kutaruh di dalam keranjang. Setelah keranjang penuh dengan rumput, aku pulang.

Aku dan adikku dibelikan ibu seekor kambing jantan. Kambing itu harus kucarikan rumput yang bagus dan hijau.  Kambing itu nggak mau makan sembarang rumput. Ia hanya mau makan daun-daun dari pohon tertentu dan rumput  yang segar dan hijau. Kalau tak ada rotan akarpun jadi. Kalau tak ada rumput yang  hijau, aku carikan dedaunan dengan cara memanjat  pohon. Kambing kukasih makan rumput hijau dan daun supaya kenyang.

Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas  5 Sekolah Dasar. Sedangkan adikku duduk di bangku kelas dua.Terlahir di kawasan pedesaan, aku harus pandai membagi waktu antara belajar, mengasuh adik , memberi  makan  ayam, menyapu halaman dan rumah dan mencarikan makan kambing. Ibu  adalah seorang pedagang kecil di Pasar Puri dengan menjual anyam-anyaman dari bambu seperti  tampah, dunak,tebok ,kalo,ilir,tambir dan lain-lainnya.  Ibu berangkat sekitar jam 3 fajar dengan berjalan kaki dari Desa Pulorejo,Winong dan menuju ke Pasar Puri di Kota Pati.  Jarak antara desaku dan Pasar Puri  sekitar 15 kilometer. Beliau pulang sampai ke rumah pada jam 5 sore. Sedangkan ayahku telah meninggalkan aku, adik dan ibu waktu aku masih kecil dikarenakan himpitan ekonomi yang begitu berat.

Karena  Ibu  yang  bekerja membanting tulang itulah, aku dan adikku harus berusaha mengurus diri sendiri. Pagi  harus bangun pagi, sholat subuh, memberi makan kambing kesayangan, membeli sarapan di warung, mandi, ganti pakaian seragam , memakai sepatu dan kaos kaki dan barangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Jarak antara sekolah dan Sekolah Dasar Puluhan Kebak sekitar 1 kilometer. Ya, cukup jauh.  Sepeda, pada waktu itu masih terlalu mahal dan tak terjangkau.  Aku tidak berjalan sendiri. Banyak teman berjalan secara bersama-sama . Jarak 1 km terasa dekat, karena  dilakukan secara bersama-sama dan dengan hati senang.

Walau harus berjalan dengan jarak kira-kira 1 km waktu berangkat dan pulang  sekolah , tetapi  pantang bagiku untuk datang terlambat. Saya harus datang lebih awal dari teman-temanku.  Sesampai di sekolah aku bertemu dengan bapak/ibu guru: Bu Ratni, Bu Harni, Bu Nyami,  Pak Setyo, Pak Turi, Pak Lajimin, Pak Sidik, Pak Kuyanto  dan Pak Sugiharto.  Begitu sampai di sekolah, aku dan teman-teman menghormat sambil memberi salam. Aku masih teringat pada teman teman SD-ku; Sukarno, Sardi, Saripin, Kasnawi, Harbono, Nawangsih, Srinah dan masih banyak yang lain.

Pada suatu hari, ibu  guru Kelas V memangil salah satu temanku. Beliau berkata, ” Kamu yang akan mewakili SDN Puluhan Kebak untuk maju  mengikuti perlombaan pelajar teladan di tingkat kecamatan. Dan ini sebuah buku tambahan yang harus kamu hafalkan dan pelajari di rumah.” “Apa..?” kataku. Tersambar petir rasanya.  Hatiku mendidih... mau usul, mau memprotes, mau  berontak tetapi aku tak berani. “Tidaklah adil,” kataku dalam hati.  Mengapa tidak diadakan seleksi dahulu di tingkat kelas?  Tes tertulis atau wawancara? Bukankah setiap siswa mempunyai hak yang sama? Bukankah aku juga mempunyai hak untuk mewakili sekolah ini?

Kupendam usulanku dalam-dalam di dada. Kusimpan air mataku di dalam kelopak mata. Kukubur dalam hati sanubari  semangat untuk menjadi yang terpilih. Setelah pulang dan sampai di rumah, akhirnya aku mengadu pada Tuhanku.“Ya Allah,  mengapa guruku tidak memilihku untuk mewakili lomba pelajar teladan di tingkat kecamatan Winong?” Aku mulai berkaca diri. “Kamu tidak pantas, kamu kan miskin, kamu kan tidak ditunggui ayahmu, kamu kan hanya seorang anak dari  seorang pedagang  anyaman bambu, kamu kan jelek, kamu kan  bodoh!”  Tidak terasa  air mata membasahi pipiku. Kalau alasan yang terakhir, pasti aku bisa menerimanya. Berarti aku harus belajar dan belajar.  Sejak saat itulah  aku berjanji pada diriku sendiri untuk rajin belajar dan bekerja membantu ibu dan  ingin menjadi siswa yang terbaik.

Setelah  sholat Dhuhur, ngliwet dan makan siang dengan lauk seadanya aku dan adikku  pergi mencarikan rumput untuk kambingku.  Sore hari, ibu datang dari berjualan anyaman dan membawa sedikit oleh-oleh.  Aku dan adik memakan oleh-oleh tersebut, kemudian aku  menjalankan sholat Ashar.

Waktu Maghrib mau tiba. Kutenteng sarung, kupakai kopiah dan melangkah dengan pasti menuju ke masjid desa. Antara masjid dan rumah tempat tinggalku tidaklah jauh, hanya berjarak kira-kira  100 meter. Kupegang mik dan kukumandangkan adzan sholat Magrib. Kemudian kulantunkan sholawat sambil menunggu kedatangan  jamaah lainnya. Setelah para jamaah berkumpul kulafatkan iqomah. Selesai sholat, aku mengaji  dengan Pak Rozaq untuk membaca Al Qur’an. Selesai mengaji, aku pulang.  Kemudian aku menyiapkan buku dan mengerjakan beberapa tugas sekolah yang diberikan kepadaku. Setelah selesai sholat, aku berkata pada ibu, “Ibu, besok Minggu saya mau ikut ke Pati untuk membeli buku.” “Iya Le, tapi kamu harus membantu ibu membawakan dagangan dan berjalan!”  “Iya ,Bu!” jawabku.  Aku gembira sekali mendengar jawaban dari ibu.

Hari itu hari Minggu. Sesuai janji  ibu, aku bangun pukul 3 malam. Aku ditalikan 20 buah tampah. Tampah itu dibagi dua.  Masing-masing katan tampah diikatkan   di pucuk mbatan.  Aku harus memikul  kedua renteng tampah tersebut. Di kegelapan fajar, dengan berobor oncor, aku berjalan mengikuti ibu.  Satu kilo meter, dua kilo meter, tiga kilometer belum terasa  berat. Tetapi setelah menginjak  kilometer keempat pundakku mulai terasa sakit. Kaki mulai terasa capai.  Kami tetap melangkah untuk menuju ke Pasar Puri di Kota Pati.  Berat dan capai terasa  hilang, sewaktu teringat buku yang mau aku beli. Usai membantu berjualan, aku dan ibu menuju ke toko buku Damai yang terletak di Jl. Pangliman Sudirman Kota Pati untuk membeli   sebuah buku impian yaitu buku Himpunan Pengetahuan Umum atau terkenal dengan singkatan HPU.

Setelah itu, saya dan ibu pulang. Sesampai di rumah, tanpa harus diminta oleh guru, kuhafal, kupelajari  dan kutelan seluruh isi buku tersebut. Aku tidak peduli, kekecewaanku yang tidak dipilih untuk mewakili pelajar teladan tidak membuatku surut  untuk tetap belajar. Siapa tahu ilmu tersebut bermanfaat. Aku masih teringat ketika Pak Rojaq guru ngajiku pernah memberikan ceramah bahwa barang siapa yang ingin meraih dunia maka dengan ilmu, barang siapa menginginkan akherat maka dengan ilmu dan barang siapa ingin kedua-duanya maka dengan ilmu. Oleh karena itu aku tetap rajin belajar. Disamping itu beliau juga pernah mengatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tak mau mengubahnya.