Jumat, 21 Mei 2021

 

Sore itu pukul tiga tiga puluh. Seperti biasa,  di sore hari sehabis sholat ashar, aku mendapat tugas untuk menyapu halaman. Banyak sekali kotoran yang terdapat di halaman terutama dari daun-daun pohon jambu air yang rontok dari pohonnya.  Kusapu kotoran dengan sapu lidi, kukumpulkan dan kubuang di tempat pembuangan sampah. Pekerjaan ini kukerjakan dengan senang hati. Halaman yang begitu luas tampak bersih dan indah setelah kusapu.

            Jam menunjuk setengah lima. Usai melaksanakan kewajibanku, kuambil beberapa buku pelajaran yaitu Bahasa Inggris dan Ekonomi, kutaruh di dalam kresek hitam dan kubawa keluar kamar tidurku. Kubawa buku- buku tersebut ke kuburan yang letaknya kira-kira seratus meter dari rumah.

            Setelah sampai diatas kuburan, kucari tempat diantara batu nisan yang bersih dan  tenang. Kubaca berulang kali dan kuhafal materi materi yang telah diterangkan oleh bapak atau ibu guru. Aku sudah terbiasa, ada ulangan atau tidak ada ulangan, tetap belajar. Belajar tidak harus menunggu komando guru. Ingin menguasai materi pelajaran, semangat belajar harus tumbuh dari hati yang paling dalam. Ingin menguasai materi pelajaran, harus  mempunyai kedisiplinan diri. Oleh karena itu, maka aku selalu memanfaatkan  waktu luang dengan mencari tempat yang sunyi,sepi, bersih dan tenang. Aku dapat belajar dengan maksimal di tempat yang seperti itu.

            Pukul lima tiga puluh. Matahari akan tenggelam. Malam akan segera tiba. Kutengok kanan dan kiri. Di situ hanya ada batu nisan, beberapa rumah kecil pelindung batu nisan dan beberapa bunga kamboja. Menjelang maghrib, lama-lama bulu kuduku mulai berdiri. Mengetahui situasi yang demikian, akhirnya kuputuskan untuk berhenti membaca buku. Aku beranjak dari tempat dudukku. Setelah beberapa saat kuucapkan salam pada penghuni kubur dan pulang.

            Walau ada rasa sedikit takut, tetapi belajar diatas kubur itu beberapa kali kulakukan.

 

 


            Tidak puas dengan hasil ulangan Bahasa Inggris, terbentuk sebuah kelompok belajar. Kelompok itu terdiri dari aku sendiri, Kuswanto, Budi Kuncung dan Brimadianto. Kami bukan berasal dari kelas yang sama. Kami buat kesepakatan bersama bahwa kami bertemu pukul 08.00-09.30 malam, seminggu sekali di teras rumah Bu Muniroh. Kami membicarakan segala sesuatu dalam Bahasa Inggris. Dari percakapan Bahasa Inggris aku biasanya yang kurang paham. Aku sering sekali tanya pada Budi Kuncung yang sangat mahir dalam Bahasa Inggris.

            Suatu saat aku bertanya pada Budi Kuncung,”Bud, kamu kok dapat berbicara dalam Bahasa Inggris begitu lancar, bagaimana caranya? Ia menjawab,” Ini, buku ini!” Ia menunjuk pada sebuah buku. Buku itu milikku. Judul dari buku itu adalah Ringkasan Bahasa Inggris SMA terbitan Ganesa Exact Bandung. “If you want to understand English better, please study all of the materials in this book.” Pada waktu itu aku belum tahu betul maksud kalimat tersebut dalam versi Bahasa Indonesia. Kemudian ia menambahkan “Hafalkan semua!” Aku terkejut sambil berkata,” Apa, setebal ini?” Kalau kamu nggak bisa, tanya aku. “ Baiklah, makasih, ya,” aku menjawab.

            Mulai saat itu, aku rajin menghafal pelajaran Bahasa Inggris.

0 komentar:

Posting Komentar