Senin, 15 Agustus 2016

Ditulis dan dipostingkan oleh Penulis
Pada posting ini, penulis melukiskan sebuah Obyek Wisata yang menawarkan keindahan, kesejukan, kenyamanan, dan sebuah karya besar Bangsa Indonesia yaitu Candi Gedong Songo.

Candi Gedong Songo adalah sekelompok Candi Hindu peninggalan nenek moyang Bangsa Indonesia sekitar abad ke-9 (tahun 927 Masehi). Obyek Wisata yang demikian indah dan menawan ini berada di Desa Candi Kec. Bandungan, Kab. Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini diketemukan oleh Rafless pada tahun 1804.


Kita dapat mencapai kawasan tersebut dari tiga arah yaitu dari arah utara,barat dan selatan. Dari arah utara : Kota Semarang - Ungaran - Bandungan, 
Dari arah barat : Kota Temanggung - Kaloran - Sumowono - Bandungan'. Dari arah selatan :  Magelang - Bawen - Bandungan. Bagi yang membawa kendaraan pribadi roda empat atau roda dua, kendaraan dapat diparkir di area parkir yang luas dan dengan keamanan terjamin yang letaknya sangat dekat dengan obyek tersebut. 


Sekitar setengah kilometer sebelum memasuki Desa Candi, kita bisa melihat ke selatan pemandangan lepas ke arah Ambarawa yaitu keindahan Rawa Pening yang dilihat dari kejauhan dari Lereng Gunung Ungaran.


Untuk memasuki kawasan wisata Candi Gedong Songo, kita cukup membeli tiket masuk seharga  Rp. 7.500,-,rupiah, sedangkan untuk para wisatawan asing membeli tiket masuk sekitar 5 Dollar AS atau seharga Rp. 50.000,- rupiah.

Gambar : Ketiga  anak penulis  bergambar bersama di depan salah satu candi
Dinamakan Candi Gedong Songo karena jumlah dari candi di kawasan lereng barat daya Gunung Ungaran pada awalnya ada sembilan candi. Tetapi pada kenyataanya, hanya tinggal separoh lebih, hal ini dikarenakan beberapa candi telah hancur diperkirakan disambar petir atau oleh sebab bencana alam.


Gambar : Penulis dan keluarga bergambar bersama, Juli 2016 di Obyek Candi ini
Karena berada di kawasan lereng gunung, kawasan ini sering berkabut sehingga udara di tempat ini demikian sejuk dingin dan menyegarkan. Letak candi antara satu dengan lainnya terpencar. Tetapi antara satu candi dengan yang lain dibuat dan ditata sedemikian rupa oleh Dinas Pariwisata dan Purbakala Semarang sehingga menjadikan kawasan tersebut sangat indah dan enak untuk dipandang dan dinikmati. Karena tempat  sejuk, tanah subur dan air melimpah, di kanan dan kiri jalan menuju ke obyek wisata tersebut para wisatawan disuguhi dengan aneka pemandangan tanaman sayur seperti bunga kol, sawi, tomat, seledri, onclang, kentang, cabai merah, cabai rawit dan aneka tanaman bunga yang ditanam oleh penduduk setempat sebagai sumber penghasilan mereka.

Gambar : Anak penulis istirahat minum dan menikmati indahnya tanaman bunga kol
Berbagai tanaman besar dan aneka bunga ditanam dan ditata rapi. Tidak hanya indah tetapi di tempat ini juga disediakan tikar dengan Rp. 10.000, kita dapat menyewanya untuk dipakai nyantai duduk atau tiduran dibawah pohon diantara candi candi. Di tempat tersebut disediakan juga bangunan gedung terbuka untuk arena bermain musik. mushola, kamar mandi dan WC dengan air bersih pegunungan yang demikian melimpah. Tidak hanya itu, di tempat itu juga terdapat kedai atau warung yang menyediakan gorengan pia pia jagung manis  atau dari kol, mendoan, kripik dari daun sayur dengan harga yang sangat terjangkau. Aneka minuman hangat seperti kopi,teh susu juga bisa dibeli dengan harga yang bersahabat. Air dalam kemasan dan aneka minuman  serta aneka snack juga ada. Kita juga bisa membeli jagung manis godog dan bakar hanya dengan beberapa ribu. Apabila kita ingin mencapai atau mengamati semua candi tersebut, kita bisa berjalan kaki atau dengan naik kuda.  
Gambar : Dua anak  penulis bergambar dengan latar belakang salah satu candi
Arena permainan untuk anakanak kecil yang tidak membahayakan juga disediakan di Obyek Wisata tersebut dengan tidak ada biaya tersendiri. Anak anak kecil seusia play Group,TK dan SD./MI dapat bermain sepuasnya.
Gambar : Area Bermain Anak kecil di Kawasan  Candi Gedong Songo
Selama kita berada di kawasan tersebut, kita akan menjumpai banyak pengunjung baik yang datang dari dalam negeri maupun dari luar negeri terutama pada hari hari libur atau hari Sabtu dan Minggu. Warga masyarakat sekitar kawasan tersebut sangat  ramah dan mau menerima para pengunjung dengan baik. Dengan udara yang demikian sejuk, alam bersahabat dan masyarakatnya yang ramah serta sistem keamanan yang baik maka rasanya enggan untuk meninggalkan tempat itu. Ingin rasanya kita berlama lama.


Gambar : Indahnya Pemandangan diantara candi
Bila kita menderita gatal gatal pada kulit, kita dapat mandi di kamar mandi dengan air yang mengandung belerang. Menurut teori, dan beberapa bukti belerang adalah baik untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan gatal gatal di kulit atau jenis penyakit lainnya. 

Sebelum kita pulang, kurang lengkap rasanya bila kita tidak membeli souvenir. Ya, sebelum kita meninggalkan obyek tersebut, sambil keluar obyek di kiri dan kanan sepanjang jalan keluar disediakan aneka souvenir misalnya kaos dengan tulisan Candi Gedong Songo dan jenis pakaian lain dengan bahan sangat baik dengan harga terjangkau. Aneka souvenir lain juga tersedia. Karena alam pegunungan maka para wisatawan dapat memborong aneka sayur mayur misalnya tomat, wortel, seledri, onclang, lombok merah, lombok rawit, kol, kenci dengan harga bersaing. Aneka tanaman hias yang ada di poliback dan siap untuk ditanam juga bisa dibeli disekitar obyek wisata tersebut.


Bagi para wisatawan dari luar kota atau luar negeri, disediakan Hotel atau Penginapan di Bandungan dengan harga yang bevariasi dari harga murah hingga harga yang mahal. Kita bisa memilih tempat untuk menginap disesuaikan dengan keadaan keuangan kita.

Selamat mengunjungi Candi Gedong Songo dengan seribu kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Selamat datang di Jawa Tengah, Indonesia,Tahun 2016.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Tengah.

@VisitJawaTengah (link www.twitter.com/visitjawatengah )

Senin, 08 Agustus 2016

Ditulis dan dipostingkan oleh Penulis.
Sabtu siang kemarin (sehabis kerja) aku, istri dan si bungsu, ke Gurah Kediri Jawa dengan bersepeda motor. Kami berangkat dari Kayen sekitar pukul 10.00. Kami mengambil rute Kayen,Sukolilo, Purwodadi, Kradenan, Jenar, Sambungmacan, Ngawi, Caruban, Nganjuk, Kertosono,Papar,Plemahan,Pagu dan Gurah Kediri. Cuaca bersahabat. Udara terasa segar. Kami sampai di Pondok Modern Darussalam Gontor 3, Darul Makrifat, Kediri sebelum Magrib sekitar pukul 17.15. Sesampai di Pondok, kami diterima oleh para Santri yang piket di bagian Bapenta (Bagian Penerimaan Tamu) dengan ramah dan sopan. 

Seperti biasa, kami melapor sambil menyerahkan KTP. Kamipun dipinjami 2 kasur untuk menginap semalam. Kami ditanya beberapa hal sambil dituliskan di Buku Tamu, tentang Nama,Asal,Keperluan, Siswa yang dikunjungi, dan berapa malam menginap. Kemudian kami disuruh menunggu siswa (anak kami yang kedua) di kamar tamu yang telah disediakan, kamar tamu putra terpisah dengan kamar tamu putri. Kamar tamu disediakan secara gratis oleh Pondok Modern Darussalam Gontor 3 tersebut. Siswa yang kebagian piket tadi memanggilkan anak kami.

Sewaktu menunggu, hujan demikian lebat disertai angin dan petir. Alhamdulillah, sewaktu kami di perjalanan tidak kehujanan, Kami menunggu dengan sabar, tapi karena hujan yang demikian deras setelah Magrib kami belum bisa bertemu dengan anak kami. Kami dapat bertemu dengan anak kami setelah Sholat Isyak. Setelah waktu tidur wajib dibunyikan, anak kami menuju ke rayonnya (kamar tidur para santri). Kami bertemu anak kami lagi pada pagi hari sekitar selama 30 menit sebelum masuk ke kelas untuk menerima pelajaran. Setelah selesai memberikan motivasi, kami pulang. Kami mengambil rute Gurah, Pagu, Papar, Kertosono, Nganjuk, Sukomoro, Bojonegoro, Padangan, Cepu, Blora, Rembang, Juwana dan Pati.

Dari Bojonegoro ke arah Padangan, di sebelah kiri jalan atau di sebelah selatan terdapat rel kereta api. Jalan Raya hampir sejajar dengan Rel Kereta Api, Kami dari Ponorogo melaju dengan kecepatan sekitar  50 s.d. 60 km per jam. Sebenarnya kalau jalannya cukup lebar dan halus kami biasa melaju dengan kecepatan 70 hingga 80 km per jamnya. Dikarenakan jalan yang bergelombang dan kendaraan cukup padat kami memperpelan laju kendaraan sepeda motor.


Setelah sekitar 7 km meninggalkan Kota Bojonegoro, dari arah belakang terdengar suara gemuruh kereta api yang sedang berjalan. Kereta api melaju dengan kecepatan tinggi dari Bojonegoro ke arah Padangan, Cepu.  Tidak mau kalah dengan laju kereta, aku menambah kecepatan sepeda moto. Tapi sayang ...karena jalan bergelombang, dan terhadang dengan beberapa kendaraan yang ada didepan, kami harus mengurungkan niat mempercepat laju kendaraan. Aku ingin selamat. Sehingga aku harus mengaku kalah dengan kereta api...Walaupun demikian ....kami sangat bersyukur kepada Allah SWT, karena kami sampai di rumah dengan selamat sekitar pukul 16.00 WIB.

Jumat, 15 Juli 2016

Ditulis dan dipostingkan oleh Admin Blog Para pembaca yang budiman. Pada saat ini, biar kami berbagi sedikit pengalaman dengan judul diatas.



Aku, Istri dan Si Bungsu habis mengantar anak yang kedua dari Mlarak,Ponorogo. Kami berangkat pulang dari Kota Reog pukul 08.00 malam dengan sepeda motor. Cuaca demikian bersahabat. Dari Ponorogo, kami mengambil arah Magetan, Maospati, Ngawi, Sragen, Sumber Lawang, Purwodadi. Pati.

Sampai di Sumber Lawang, sekitar pukul 12.00 malam, atau pukul 00, lampu sepeda motor utama mati. Aku menghentikan sepeda motor, mencari tempat yang terang dan kira kira aman dan berusaha untuk menghidupkan lampu, tetapi aku nggak berhasil. Aku berusaha untuk mencari jasa bengkel. satu, dua, tiga, empat dan lima orang yang aku temui jawabanya hampir senada dan seirama. Jawaban dari mereka adalah aku hanya menembel ban yang bocor Mas. Aku nggak bisa menyervis lampu mati. Tidak boleh menyerah, demikian kataku dalam hati.

Tidak ada rotan akarpun jadi, Tidak ada sesuatu yang baik, sesuatu yang kurang baikpun dapat dimanfaatkan. Lampu reteng. Ya, aku gunakan lampu reteng yang sebelah kiri. Aku gunakan sebagai lamu pererangan jalan dan sebagai pertanda bahwa ada kendaraan yang sedang berjalan. Tentu saja, aku mengendarai sepeda tidak secepat waktu masih menggukan lampu utama yang dapat menempuh 60 s.d 70 km per jamnya. Dengan bantuan lampu reteng dan marka jalan garis putih ditengah dan kanan dan kiri jalan raya, aku mengendarai sepeda dengan sangat pelan yaitu 20 s.d. 30 km per jam. Sedikitnya ada dua alasan mengapa aku mengendarai sepeda motor demikian pelan. Alasan pertama adalah supaya dikenali kendaraan dari arah yang berlawanan. Alasan yang kedua adalah supaya berjalan di jalan yang sebenarnya dan tidak berbelok ke arah yang salah.

Aku juga sudah berusaha untuk mengekor pada kendaraan yang lewat, entah itu roda dua, roda empat, roda enam....tetapi laju kendaraan mereka terlalu cepat untuk kami ikuti. Kami sudah berusaha sekuat tenaga dan daya upaya untuk menghentikan mobil atau sepeda motor yang lewat, tapi nggak ada satupun dari mereka yang mau berhenti. Sesampai di hutan kanan dan kiri pertigaan jalan Waduk Kedung, nggak ada penerangan jalan sama sekali, jalan naik turun....Kami mau berhenti di jalan yang sepi dan petang jelas tidak berani, karena alasan keamanan. Kami tetap berjalan demikian pelan. Kadang kadang kami terbantu dengan sorot lampu kendaraan yang dari arah yang berlawanan. 

Sesampai di Kota Purwodadi, kami tambah laju kendaraan karena adanya lampu jalan di dalam kota. Keluar dari kota, kami perpelan lagi laju kendaraan. Kami demikian miris untuk masuk ke kawasan hutan Pegunungan Kendeng di sekitar Jati Pohon. Kami tahu bahwa jalan naik turun berbelak belok dan cukup tajam tikungannya. Adalah sangat berbahaya bila penerangan hanya dengan lampu reteng. Kami berhenti di tepi jalan di tempat yang terang. Alhamdulillah. Ada sebuah truk dam dengan nomor kendaraan K 1840 CS yang mau berhenti setelah kami bertiga menghentikannya. Setelah berhenti kami hanya berkata...Mas nunut lampu. Lampu kami mati.  Alhamdulillah, Pengendara truk tampaknya bersahabat. Ia melajukan kendaraan dengan kira kira 30 s.d. 40 km perjamnya, sehingga kami dapat mengekor. Alhamdulillah, dari Jati Pohon Purwodadi sampai ke kota Pati truk berjalan dengan kecepatan tersebut. Memasuki kota Pati aku mempercepat sepeda motor sehingga aku berada didepan truk. Truk kami hentikan. Berhenti ...Mas. Setelah truk berhenti, Aku juga menghentikan kendaraan dan turun dari sepeda motor. 

Aku menghampiri pengemudi truk. Pengemudi truk juga turun dari kendaraanya. Aku bersalaman dengannya. Terima kasih Mas, panjenengan telah membantu kami. Sama sama jawabya. Aku tanya Mas dari mana dan mau kemana. Aku dari Sragen setor kricak. Aku mau pulang ke Kajen. Maaf...Mas namanya siapa. Nama saya Ari, Pak. Terima kasih Mas Ari. Aku keluarkan sedikir rupiah dari dalam dompet untuk sekedar beli sarpan untuk Mas Ari. Tetapi ia sama sekali tidak mau menerimanya. Ia demikian ikhlas menolong kami. Terima kasih Mas Ari, semoga Allah SWT membalas kebaikan Mas Ari. 

Shobat....dari sedikit pengalaman penulis ini kita tidak boleh berputus asa atas rahmat Allah SWT walau dalam keadaan sesulit apapun. Dan Ada Saatnya Kita Hanya Bersandar Pada Allah SWT Untuk Memohon Pertolongan....


Sabtu, 09 Juli 2016

Diosting oleh : Admin Blog  Foto Dokumentasi Keluarga. Silaturohim atau berkunjung Insya Allah dapat memperlancar rejeki dan memperpanjang umur. Demikian salah satu Hadist Nabi Muhammad SAW. Lebaran 1437 Hijriah/Tahun 2016.Kita manfaatkan untuk itu, terutama dengan keluarga yang jauh. Ya...di hari lebaran atau Idul Fitri, kita saling memaafkan. Hablum minanas, hubungan baik sesama manusia terutama dengan keluarga dan tentu setelah kita melaksanakan Hablum Minalloh (hubungan dengan Allah SWT) berupa ibadah berpuasa sebukan penuh (bagi umat Islam).












Rabu, 29 Juni 2016

Ditulis dan dipostingkan oleh Admin Blog.
Para pembaca blog Bertahan Dalam Badai yang budiman. sebuah artikel yang perlu aku pandang layak untuk ditulis dan dipostingkan. Sebuah keluarga inti terdiri dari suami, istri dan anak-anak. Dalam kehidupan sehari hari, orang tua kadang dibuat puyeng, bagaimana mengatur anggaran untuk mencukupi kebutuhan hidup. Kebutuhan pokok : sandang, pangan ,perumahan dan pendidikan. Serta kebutuhan lain misalnya rekreasi dan beramal.

Untuk kebutuhan sandang, pangan dan perumahan harus terpenuhi. Demikian pula perlu diseimbangkan dengan kebutuhan rekreasi dan beramal. Meski kadang salah satu tak terpenuhi. Khusus untuk anggaran pendidikan bagaimana? Apakah kebutuhan pendidikan orang tua harus lebih diutamakan daripada pendidikan anak?

Anak-anak  adalah generasi penerus keluarga. Anak anak adalah generasi penerus bangsa dan negara. Anak anak perlu diutamakan pendidikannya dari pada orang tua dalam sebuah keluarga. Kalo ada orang tua yang lebih mementingkan biaya pendidikan mereka dibandingkan dengan biaya pendidikan anak adalah orang tua yang angat egois. Berapa waktu orang tua harus hidup di dunia? Adalah waullohualam. Hanya Allah SWT yang Maha Tahu.

Tetapi bila dihitung dengan hitungan matematika, anak anak akan hidup lebih lama bila dibandingkan dengan kehidupan kita sebagai orang tua. Bila jatah umur kita sekitar 60 tahun, jika sekarang kita sudah berumur 50 tahun, kita tinggal 10 tahun lagi hidup di alam fana ini. Dan bila anak kita berumur 20 tahun, maka anak akan tinggal di dunia ini selama 40 tahun dengan asumsi jatah umur yang sama yaitu 60 tahun. Semakin lama hidup di dunia semakin banyak bekal pendidikan dan ilmu yang harus dipunyai oleh seorang anak. Tidak hanya pendidikan atau ilmu dunia, tetapi pendidikan atau ilmu setelah kematianpun (ilmu akherat) pun harus juga diberikan.

Dari alasan tersebut diatas, bila kita disuruh memilih, maka anggaran pendidikan anak lebih diutamakan dari pada anggaran pendidikan untuk orang tua. So, orang tua kadang harus mengalah untuk pendidikan anak.

Foto Dokumen Keluarga:
Lokasi  Foto: Depan Gedung Robitoh, Pondok Modern Darussalam Gontor 1, Mlarak Ponorogo Jawa Timur. Foto diambil Juni 2016.





Minggu, 10 April 2016

Dituls lan dipostingke denng Penulis. Dino Setu awan  kiro kiro jam 2, aku, ibune lan si bungsu tak kanti budhal saka omah ngannggo sepedha motor, saperlu niliki anak kang pambarep lan no loro kang nembe sinau ana ing Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Saka Kutho Pati. Ana njero pikiran aku arep nglewati rute Juwana Rembang Blora Cepu Bajanegara Ngawi Magetan Madiun lan Ponorogo. Sakwise tekan etane kutho Juwana, sajak grimis, lan arep udan.

Aku noleh langit sisih kidul kulon. Langit sajak padhang. Olehku nyepedha tekan nglewati Juwana, aku mbalik 180 derajat. Aku njupuk arah kiri. Saka Juwana ngidul tekan Jakenan, Winong, Gabus, Tambakromo. Sobek sobek. Tekan Tambakromo udan deres.  Aku mandek. Njupuk jas udan ana ing ngisor jok. Banjur sepedha motor tak stater. Aku nerusake laku, motong munggah Gunung Kendeng. Aku tekan Maitan. Ana ing Desa Wukir Sari, bes. Ban nggembes.Aku mandehek. ibune lan anak bungsuku tak udhunke lan ngenteni ana angkruk sak pinggire dalan gedhe. Sepedha tak gladhak, nggolek tukang tambal ban. 


Para pembaca kang minulya, mesthi bae iso nebak. Sepedha motor kang dak gladhak mesthi ban njerone rusak. Mulo aku nyuwun tukang tambal ban ngganti ban njero bae. Udan isih deres. Kabut ugo sajake kandel banget. Hawane sajak atis banget. Mbutuhake kira kira 1 jam, tukang ban mbenakake. Mergo aku kudu andri dhisik. Aku sajak diwelehke Gusti Kang Akariyo Jagad. Allah SWT.  Yen jatahe kudanan ya mesthi kudanan. 


Sakwise rampung, aku nerusake laku. Saka Maitan, aku njupuk rute Pelem Sengir, Tegal Rejo, Ngidul terus, Tekan Bleduk Kuwu, Wirosari. Wirosari ngidul terus, Kradenan, Jenar, Sambung Macan (Kabupaten Sragen sisih Wetan). Aku banjur tekan Ngawi, Magetan, Madiun lan Ponorogo. Alhamdulillah, tekan tujuanku kiro kiro jam 12 bengi, kanthi slamet lujeng ora ana alangan apa - apa.

Minggu, 27 Maret 2016

Ditulis dan dipostingkan oleh Penulis.
Tadi malam kami melakukan perjalanan dengan istri dan si bungsu ke Kota Reog Ponorogo Jawa Timur untuk sebuah urusan dengan bersepeda motor. Dari kota Pati pukul 17.30. Sampai di Karaban kami berhenti untuk sholat Magrib yang sekaligus kami jamak takdim dengan sholat Isyak. Cuaca demikian bersahabat. Setelah selesai sholat kami melanjutkan perjalanan ke Kayen, Sukolilo, Sragen, Ngawi,Magetan,Madiun dan Ponorogo. Sampai di Kota Reog dan di tempat tujuan pukul 02.00 fajar. Kami demikian lelah sehingga sampai di tempat tujuan kami tidur.

Setelah urusan kami selesai, pukul 09.00 pagi, kami pulang. Dari kota Ponorogo, kami tidak lewat Madiun, tapi kami lewat Jalan ke arah Maospati Magetan. Sekitar 10 menit perjalanan keluar dari kota, di Jalan Raya, ada sekitar 15 petugas berseragam  dengan satu mobil dinas dan beberapa kendaraan yang menghentikan kendaraan yang hilir mudik. Kami tenang karena surat kendaraan dan persyaratan lengkap. Kami jiga tenang karena kami nggak melanggar marka jalan dan lampu utama kami nyalakan sejak dari mulai berangkat.

Kami nggak tahu kenapa kami dihentikan. Setelah diantara mereka memberi hormat dan salam salah satu dari mereka meminta SIM dan STNK sepeda motor kami. Kami memberikan. telah STNK kami berikan beliau menuding bahwa kami nggak menghidupkan lampu utama. Memang benar ada kendaraan yang mirip sepeda motor kami yang ada di depan kami nggak menghidupkan lampu utama ketika berjalan. Karena kami benar kami beragumentasi beberrapa saat dengan petugas tersebut. Sampai kami malu disaksikan istri dan si bungsu.


Tahu kegigihan kami, petugas tadi konfirmasi dengan teman yang melihat. Temannya  mengiyakan seolah olah kami nggak menghidupkan lampu. Mereka saling mendukung memperkuat tuduhan. Akhirnya STNK kami di berikan ke bagian depan mobil untuk ditilang dan harus sidang pada tanggal tertentu. Pati ....Jawa Timur......sidang???? Adalah sesuatu yang nggak masuk akal. Karena kami nggak melakukan.....kami harus bertanggung jawab. Kami nggak mau. Kami harus.......... STNK supaya dapat kami bawa pulang..... 


Para pembaca yang budiman.....Menurut pendapat kami....peraturan Lalu Lintas yang menyebutkan...bahwa pada waktu siang dan malam waktu berkendara roda dua harus menyalakan lampu utama supaya dihapuskan. Kan pada waktu siang hari....dengan adanya sinar matahari...nggak perlu penerangan dari lampu utama sepeda motor. Justru pada malam hari....semua kendaraan wajib menghidupkan lampu utama. Demikian terima kasih.

Jumat, 05 Februari 2016

Ditulis dan dipostingkan oleh Penulis
Hari ini, sekitar pukul 11.00 WIB, hujan deras hingga pukul 12.00 di sekitar Pati kota dan sekitarnya. Di Perumnas Kutoharjo, terjadi banjir di Jalan perumnas karena dangkalnya dan menyempitnya saluran air di kanan dan kiri jalan. Saluran air utama di Jalan Amarta Raya kurang berfungsi dengan baik karena penyempitan dan pendangkalan. Sebab yang lain adalah diatas saluran diberi pagar dan bangunan lain. Untuk mengatasi hal ini menurut pendapat penulis perlu normalilsasi saluran air terutama di kanan dan kiri Jalan Amarta.  Inilah beberapa gambar dokumentasi.






Untuk lebih jelasnya, saksikan sebuah tayangan video berikut :



Pendapat Penulis berkaitan dengan permasalahan tersebut silakan klik :
Upaya Mengatasi Banjir di Perumnas Kutoharjo Permai Pati Jawa Tengah

Bagaimana upaya mengatasi atau mengurangi banjir yang sering terjadi di Perumnas Kutoharjo?
Silakan Klik Disini

Demikian,semoga posting ini bermanfaat.

Senin, 01 Februari 2016

Ditulis dan dipostingkan oleh Penulis.
Bandungan, Sumowono dan Temanggung adalah tempat di Jawa Tengah yang indah dengan pemandangan alam dan udara yang sejuk bahkan kadang berkabut.