Jumat, 21 Mei 2021

 

Pagi itu pukul 6.20. Usai ganti pakaian, mengecek ulang buku pelajaran dan buku catatan, aku pamit sama Bu Roeka untuk berangkat ke sekolah. Karena jarak rumah dengan sekolah dekat, aku berjalan kaki. Waktu itu aku masih teringat, jam pertama adalah jam Biologi dan ada ulangan. Guru biologi begitu ketat kalau mengawasi pada saat ulangan harian. Terlepas ketat atau tidak, pantang bagiku untuk nyontek atau tanya pada teman waktu ada ulangan.

Sebenarnya materi ulangan sudah kuhafal dari rumah. Aku merasa bahwa materi ulangan Biologi belumlah cukup. Kukeluarkan buku catatan biologi dari tas hitamku. Sambil berjalan, kupelajari semua materi yang akan digunakan untuk ulangan harian jam pertama nanti. Tak kusadari, ada salah seorang guru SMP yang memperhatikanku. Saat itu, aku berjalan sambil membaca buku. Tetapi karena asyiknya belajar, aku tak mempedulikan beliau.

Sesampai di halaman sekolah kututup buku biologiku. Aku sudah merasa lebih siap untuk menerima ulangan dengan membaca materi selama kira-kira lima belas menit sewaktu perjalanan dari rumah ke sekolah.

Bel masuk berbunyi. Semua siswa masuk kelas termasuk juga aku. Kusiapkan selembar kertas untuk menerima ulangan. Bu Mardini guru Biologiku masuk. Setelah ketua kelas menyiapkan dan memberi hormat, kami semua duduk.  “Ayo anak-anak hari ini ulangan. Keluarkan selembar kertas! Tulis nama, nomer absen dan kelas!” guruku memberi perintah. Begitu Bu Guru selesai memberikan perintah, aku mengambil kertas kutulis nama, kelas dan nomor absenku. Semua soal yang diberikan kukerjakan dengan baik. Waktu yang diberikan Ibu Guru untuk mengerjakan soal telah selesai. Pekerjaan dikumpulkan.

Usai ulangan, jam pelajaran Biologi masih tersisa beberapa menit. Sambil menunggu jam berakhir, beliau menanyakan soal apa yang kira-kira sulit dikerjakan. Semua siswa diam. Selanjutnya Bu Guru menambahkan saran-saran,”Kalau ingin mendapatkan nilai baik, ya harus mau belajar sungguh-sungguh di rumah. Belajar itu jangan sambil jalan. Berjalan di jalan raya kok sambil belajar. Kalau dari depan ada sepeda motor atau mobil kalau ketabrak kan bisa meninggal dunia,” guruku memberi nasehat. Aku tahu bahwa secara tidak langsung ibu guru tadi menasehatiku, tetapi beliau tidak menyebut namaku secara langsung.

“Terima kasih sarannya Bu, “gumanku dalam hati. Kemudian aku memprotes beliau dalam hatiku,”Tidakkah bu guru tahu bahwa waktuku di rumah harus saya bagi empat, satu bagian untuk membantu pekerjaan dari keluarga yang telah menghidupi dan menyekolahkan aku, bagian kedua untuk mengaji dan beribadah, bagian  ketiga untuk istirahat, dan yang keempat untuk belajar materi pelajaran, dengan demikian waktu untuk belajar dapat dipastikan sangat tidak memadahi?”

Aku tak ingin nilai ulangan harian atau nilai tugas dibawah teman-teman sekelasku atau teman dari kelas lain. Teringat teman-teman seperjuangan sekaligus sainganku di SMP....Imam Suyuti, Listiyono,  Sugiyanto, Sholekhan, Sudarsono, Sri Budi Hartati, Suyono dan lain-lainnya. Sedangkan dari kelas lain adalah Kaslan dan Patmolujeng. Setelah hasil ulangan harian dibagikan kulihat hasil nilai ulanganku dan kubandingkan dengan hasil nilai ulangan teman-teman. Begitu ada nilai teman diatas saya,  aku sangat sedih. “Awas, kalau ada ulangan lagi, nilaiku harus lebih baik dari pada mereka,” kataku dalam hati.

Oleh karena itu dengan keterbatasan waktu, aku harus mampu membagi waktu dengan baik. Biasanya aku belajar dengan membaca buku pelajaran dengan tiduran, dengan duduk, dengan berdiri, bahkan pernah kulakukan dengan jongkok disaat membuang hajat besar.

0 komentar:

Posting Komentar