Jumat, 21 Mei 2021


Wali kelas VI telah mengumumkan hasil ujian. Aku mendapat rangking 1 di Sekolah Dasarku. Aku bertekad bulat untuk meneruskan sekolah ke SMP.  Aku tahu bahwa si teman yang sudah mewakili pelajar teladan sudah terlebih dahulu mendapat tempat di salah satu guru SD ku dan sudah mendaftar di SMP.

Seorang teman lain dan masih saudara yang telah menamatkan  SD terlebih dahulu pernah mengungkapkan sebuah pepatah. Ia berkata, “Maksud hati memeluk gunung tetapi apa daya tangan tak sampai.” Kemauan  ingin melanjutkan sekolah di SMP, tetapi dikarenakan biaya tidak mencukupi karena orang tua kurang mampu, ia mengurungkan niatnya. Saudaraku tadi menyerah. Tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan  pada waktu itu, untuk masuk ke SMP. Pada awal masuk SMP, orang tua siswa harus menyediakan uang gedung atau uang bangku dan uang seragam.

Kalau pepatah tersebut dipegang  temanku, sehingga ia mudah menyerah untuk tidak meneruskan sekolah, tetapi pepatah itu  tidak berlaku bagiku. Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Kalau gunung itu jauh, bila harus ditempuh dengan berlari, ya, aku harus berlari.  Apabila tidak mampu berlari untuk sampai ke gunung tersebut,  aku harus berjalan cepat. Jika tidak kuat berjalan cepat, aku harus berjalan  santai. Kalau tak kuasa berjalan, aku harus mbrangkang. Kalau tak sanggup mbrangkang, ya aku harus ngangsut. Memang letih, memang penat, memang capai, memang susah dan memang  menderita harus mendaki gunung dengan ngangsut.

Pada kenyataanya, secara ekonomi ibu tidak sanggup membiayaiku melanjutkan sekolah dengan membayar uang pangkal/uang gedung dan uang seragam. Namun niat dan semangatku tak akan pernah lekang oleh teriknya panas matahari dan tak pernah lapuk oleh derasnya air hujan, tak akan pernah tergerus oleh derasnya arus sungai, dan tak pernah sedikitpun goyah oleh besarnya badai yang menghantam. Aku harus tetap belajar. Aku harus tetap meneruskan sekolah ke SMP.  Oleh karena itu pada suatu sore hari, dengan sepeda ontelku, aku pergi ke salah seorang  guru SD ku  di desa Kebowan. Nama guruku tersebut adalah Pak Sugiharto. Desa tersebut terletak kira kira 2 km dari desaku.

“Kulonuwun...Assalammualaikum,” dengan mengetuk pintu kuucapkan salam. “Monggo, Waalaikumsalam,” terdengar  jawaban dari balik pintu. “Silakan masuk, Mas, “ guruku mempersilakan aku masuk.   Aku masuk dan duduk di kursi ruang tamu. “Maaf, Pak, kedatanganku kesini hanya merepotkan Bapak.” kataku untuk memberi rasa sopan. Kemudian aku berkata,  “Aku kesini mau minta tolong sama Bapak . “Minta tolong apa Mas?” beliau penasaran. “Tolong Pak, aku mohon carikan orang yang mau membiayaiku bersekolah ke SMP.  Saya siap untuk membantu kerja apa saja yang penting halal, “kataku. Guruku agak bingung mendengarkan pintaku. Setelah beberapa saat menundukkan kepala dan berfikir, akhirnya beliau menjawab. “Baik, Mas,tunggu satu atau dua hari lagi. Akan aku carikan orang yang mau menyekolahkan Mas,” kata beliau menyanggupinya. Mendengar kesanggupan beliau yang demikian, aku terdiam dan merasa senang sekali, aku mohon pamit dan pulang, tentu saja setelah mengucapkan terima kasih.

Sesampai di rumah aku berdoa , “Ya Allah, semoga aku mendapatkan tempat yang aku harapkan.” Dua hari berikutnya, seperti biasa aku dan beberapa teman berangkat menuju ke sekolah. Hari itu hari penerimaan nilai Ebtanas dan Ijasah dari SD-ku. Sesampai di sekolah sekitar jam 10 pagi, guru kelas 6 memanggil satu demi satu siswa. Sesampai giliranku, akupun maju beberapa langkah dan melihat hasil nilai ujian murniku.”Terima kasih ya Allah, aku memperoleh nilai tertinggi.” kataku dalam hati.

Dengan segudang harapan, kutemui Pak Sugiharto di ruang guru, “Oh ya, sini Mas, Silakan Mas mendaftar saja ke SMP Negeri Winong. Kalau pada pengumuman, Mas positip diterima, ada seseorang yang akan mencarimu.” “Ya Pak, terima kasih sekali,” aku menjawab.  Saya percaya dan yakin akan janji guruku itu, tanpa keraguan sedikitpun.

Hari itu juga, aku mendaftarkan diri ke SMPN 1 Winong. Dua hari berikutnya pengumuman. Nama-nama siswa baru yang diterima sudah ditempel di papan pengumuman. Setelah kucari namaku, ternyata namaku tertera disitu. Berarti aku diterima. Setelah beberapa saat, ada seseorang yang ingin menemuiku.  Sambil menyelidik  orang tersebut bertanya pada calon siswa yang ada di sekitar-ku. “Adakah siswa disini yang bernama Damin?”   “Ya, Pak itu aku,”jawabku sambil maju dua langkah. “Betul Pak, itu namaku,” aku meyakinkan beliau. “Perkenalkan, namaku Roeka. Kalau kamu berniat sungguh-sungguh untuk bersekolah, datanglah besok pagi di rumahku. Rumahku tidak jauh dari sini. Dari SMP ini ke timur kira-kira setengah kilometer, disitu ada Pasar Winong . Di sebelah Pasar Winong ada jalan ke selatan dan ikuti jalan itu. Di penghujung pasar itu rumahku,” beliau berkata demikian.  “Ya, Pak, terima kasih,” aku menjawab.  Setelah mengetahui jawabanku bapak itu pergi meninggalkanku.

Sejuta harapan terjawab sudah. Waktu itu,  hanya sedikit temanku yang dari golongan  mampu,  meneruskan anak mereka ke SMP. “Terima kasih, ya Allah,” aku bersyukur dalam hati. Kupandang langit biru. Kudengar kicauan burung kutilang di sekitar sekolah. Pada saat itu, masih terdengar nyanyian burung-burung yang berkeliaran di alam bebas; burung kutilang,jalak,cendet,pelatuk,drekuku, dan perkutut.

Tak ada orang lain di dunia ini segembira aku.  “Aku dapat bersekolah. Aku dapat meneruskan sekolah di SMP. Aku diijinkan sekolah oleh Yang Maha Kuasa. Allah telah mejawab salah satu doaku,” kataku dalam hati untuk mensyukuri nikmat  Allah yang telah diberikan kepadaku.

Segala sesuatu yang aku alami semua kuceritakan pada ibu. “Ibu, aku diterima di SMP Negeri Winong. Aku telah memperoleh tempat untuk berpijak, yaitu di rumah keluarga Bapak Roeka di dukuh Cangaan, Winong. Ijinkan aku Bu untuk menuntut ilmu untuk bekalku di dunia dan di akherat nanti,” aku berkata dan sekaligus memohon ijin pada beliau. “Ya..le,” jawab ibuku. Mulai besok aku harus keluar dan pergi dari rumah ini. Mulai besok, aku harus bertempat tinggal di rumah keluarga Pak Roeka.

Sore itu, matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Seperti biasa kulangkahkan kaki untuk mengaji. Mungkin malam ini aku harus berpamitan dengan masjid tercintaku.  Setelah kukumandangkan adzan Magrib, kulantunkan sholawat dan kutunaikan sholat Maghrib berjamaah, aku menengadahkan tangan seraya berdoa...”Ya, Allah, tolonglah hamba-Mu ini. Aku memohon kepada-Mu, selalu bimbinglah aku ke jalan-Mu yang lurus dan jalan yang Engkau ridhoi. Kami mulai besok pagi akan bertempat tinggal di rumah keluarga bapak Roeka. Selalu lindungilah  aku. Atas pertolongan-Mu, Ya Allah, jadikan kami kerasan di rumah tersebut. Mudahkanlah aku dalam menuntut ilmu di SMP Negeri 1 Winong,” demikian aku mendo’a.  Kemudian aku berkata di dalam hatiku,”Selamat tinggal masjidku. Mudah-mudahan saya dapat menemukan tempat ibadah dan guru ngaji di tempat baruku nanti.”

Setelah pulang dan menghabiskan sisa malamku, aku bangun di waktu adzan subuh. Setelah sholat subuh di kamar tidur, aku mengemasi beberapa potong kaos, celan pendek dan seragam SD. Aku tidak lupa membawa rapor, ijazah dan surat penting lainnya.  Karena aku tak punya tas berukuran besar, kucoba plastik kresek hitam untuk menaruh barang-barangku, ternyata plastik itu terlalu kecil sehingga tidak muat. Terpaksa aku pakai kain  kantong gandum putih sebagai pengganti tas.

“Audhubillahiminasyaetonirrojiim... Bismillahirrahmannirrahim. Ya Allah...lindungi aku..... kuatkanlah aku....,”sambil meneteskan air mata, kutinggalkan desa tercintaku. Kupanggul kantong putih yang berisi beberapa potong kain. Aku berjalan kira-kira setengah kilo dengan memanggul kantong terigu putih menuju ke jalan raya. Selanjutnya dengan naik kereta kuda, aku menuju kerumah keluaraga pak Roeka.

 

0 komentar:

Posting Komentar